Sungguh saya bukan Pendidik

Pada tahun ini, tahun 2012 genaplah 50 tahun tugas/pengembaraan saya di dunia Pendidikan, mulai dari Lembaga yang dulu bernama Fakultas Pendidikan Djasmani (FPD) di bawah Universitas Padjadjaran tahun 1962, menjadi Sekolah Tinggi Olahraga (STO) di bawah Departemen Olahraga, menjadi Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan (FKIK) dibawah IKIP-Bandung, dan terakhir berubah nama menjadi Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) di bawah Universitas Pendidikan Indonesia.

Latar belakang Pendidikan saya Fakultas Kedokteran (Sports Physiology) yang diperlukan bagi Pendidikan dan Pengajaran di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Dari latar belakang ini, jelas saya bukan profesional dalam bidang Pendidikan. Lingkup tugas Pendidikan dan Pengajaran secara kolektif adalah mempersiapkan mahasiswa menjadi Pendidik dan Pengajar, serta profesionals di bidang Keolahragaan dan Kesehatan Olahraga. Tugas ini sungguh merupakan tugas Pendidikan, Pembinaan dan Pembentukan Manusia seutuhnya, yang meliputi aspek Jasmani, Rohani dan Sosial. Jadi sungguh betapa mulia tugas ini, karena sesungguhnya tugas ini adalah tugas untuk mendidik, membentuk dan membina watak bangsa, khususnya generasi muda.

Saya tak hendak membahas masalah pendidikan secara sistematis, karena sungguh di luar kemampuan saya. Saya hanya akan membahas aspek-aspek pendidikan secara sporadis sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikiran saya yang saya anggap sangat penting. Saya sekedar mengikuti pola pemikiran dasar pendidikan yang telah sangat difahami orang pada umumnya yaitu bahwa pendidikan meliputi masalah pemahaman, penghayatan dan pengubahan pola perilaku yang relatif menetap yang merupakan hasil dari telah diperolehnya pemahaman dan penghayatan yang baru.

Dalam aspek pemahaman (ranah kognitif), diharapkan (Maha)siswa menjadi faham akan nilai-nilai kebenaran, kepatutan dan kelayakan, memiliki wawasan yang (lebih) luas, selektif, kritis, asosiatif dan akomodatif, sesuai dengan kebutuhan dan kepatutan yang adekuat, tanpa adanya pemikiran yang bersifat koruptif. Melalui pendidikan diharapkan (Maha)siswa menjadi cerdas dan santun secara akademis.

Dalam masalah penghayatan (ranah afektif), (Maha)siswa yang telah menjadi lebih cerdas secara akademis diharapkan dapat menjadi lebih jujur dalam segala aspek evaluasinya, artinya segala pola pemikirannya harus bersifat objektif, rasional dan transparan. Pola penghayatan demikian harus secara terus-menerus dibudayakan dan dideseminasikan, karena hakekatnya hal ini merupakan landasan Pendidikan bagi pemberantasan korupsi.

Dalam hal perilaku (ranah psikomotorik), diharapkan (Maha)siswa dapat berperilaku santun, jujur, rendah hati, terhormat dan berani dalam kebenaran. Sungguh inilah 4 hal (cerdas, jujur, terhormat, berani) yang sangat melekat dalam pemikiran saya yang harus menjadi bekal dasar bagi seluruh (Maha)siswa FPOK-UPI dalam rangka pembentukan dan pembinaan watak bangsa. Sungguh walaupun saya sudah berada dalam ambang kesenjaan, namun masih selalu tergelitik manakala harus berurusan dengan Pendidikan dan Pembangunan Manusia Seutuhnya, Pendidikan dan Pembangunan Watak Bangsa dan khususnya Pembangunan Watak generasi Muda.

Landasan Pembentukan Watak Bangsa

1. Cerdas
Setiap langkah dalam kehidupan merupakan satu keputusan yang akan menghasilkan keputusan berikutnya. Oleh karena keputusan sifatnya berantai dan bersebab-akibat, maka diperlukan kecerdasan dalam setiap pembuatan keputusan. Kecerdasan diperlukan agar keputusan yang dihasilkan bersifat produktif dan promotif, bukan yang bersifat destruktif dan degeneratif, keputusan harus menghasilkan pembangunan dan pertumbuhan, bukan yang mengkibatkkan kerusakan dan kematian. Artinya harus menguntungkan semua orang dan tidak seorangpun dirugikan, baik secara absolut maupun relatif. Hal ini harus disadari benar oleh setiap Pembuat keputusan, oleh karena setiap keputusan memerlukan pertimbangan dan setiap pertimbangan memerlukan kecerdasaan.

2. Jujur dan terhormat
Orang yang jujur umumnya terhormat. Memang ada orang yang jujur tetapi tidak terhormat, yaitu ketika oleh karena ketidak-cerdasannya ia jadi melakukan perbuatan yang tidak terhormat. Artinya hampir dapat dipastikan bahwa orang yang cerdas dan jujur pasti terhormat. Cerdas bagian utamanya adalah bawaan, tetapi jujur dan terhormat adalah kelakuan. Kelakuan inilah yang harus dibudayakan untuk menjadi bagian dari pendidikan, pembentukan dan pembinaan watak bangsa yang terhormat. Kecerdasan Emosional, yaitu kecerdasan yang dibingkai dengan kesadaran akan kejujuran dan kehormatan, sungguh sangat diperlukan dalam rangka memberantas perilaku koruptif bangsa.

3. Berani
Diperlukan keberanian untuk mengambil keputusan bila segala permasalahannya memang telah benar dan sesuai dengan pertimbangan yang cedas, jujur dan terhormat, di atas landasan demi kebaikan. Pelaksanaan demi kebaikan tidak harus menunggu apakah ia akan, sedang atau sudah dalam jabatan. Landasan demi kebaikan nuraninya adalah ibadah. Sejatinya ibadah adalah memohon ridha Allah. Keberhasilan dan kegagalan usaha manusia sungguh terjadi hanya karena ridha Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas Segala-galanya. Jadi mengapa harus ada istilah tidak berani melaksannakan?
Sungguh keberhasilan memang memerlukan kecerdasan, kejujuran, kehormatan, keberanian dan ridha Allah untuk dapat mencapai dan melaksanakan cita-cita. Tanpa itu semua sesungguhnya kita sudah gagal di awal niat.
Bandung, November 2012.

—oooOooo—

Maret 24, 2013 at 8:08 am Tinggalkan komentar

KONSEP DAN CARA PENILAIAN KEBUGARAN JASMANI MENURUT SUDUT PANDANG ILMU FAAL OLAHRAGA (bag.2)

lanjutan dari bagian 1

KOMPONEN KEBUGARAN JASMANI

Komponen Kebugaran Jasmani secara anatomis terdiri dari: Ergo-sistema I (ES-I) dan Ergosistema II (ES-II).
ES-I terdiri dari:
– Kerangka dengan persendiannya
– Otot
– Saraf
ES-II terdiri dari:
– Darah dan cairan tubuh
– Perangkat pernafasan
– Perangkat kardiovaskular

Komponen Kebugaran Jasmani secara fisiologis adalah fungsi dasar dari komponen-komponen anatomis tersebut di atas yaitu:
Fungsi dasar ES-I yang wujudnya adalah:
– flexibilitas
– kekuatan dan daya tahan otot
– fungsi koordinasi saraf
Fungsi dasar ES-II yang wujudnya adalah:
– daya tahan umum, sering juga disebut sebagai daya tahan kardio-respirasi.


Gambar : Komponen Kebugaran Jasmani

Secara fungsional,
ES-I mewujudkan:
– kapasitas anaerobik yang merupakan faktor pembatas kemampuan maximal primer.
Sedangkan ES-II mewujudkan:
– kapasitas aerobik (VO2 max) yang merupakan faktor pembatas kemampuan maximal sekunder.

TES KEBUGARAN JASMANI

Hakekat Tes Kebugaran Jasmani adalah mengukur kemampuan fungsi-onal maximal yang dimiliki seseorang pada saat dilakukan pengukuran. Kemampuan fungsional diukur dari besaran kemampuan gerak yang dapat dilakukan. Besaran kemampuan gerak ditentukan oleh kemampuan tubuh menghasilkan daya (energi). Apabila tubuh dapat menghasilkan daya dalam jumlah besar, maka ia pun dapat menghasilkan daya dalam jumlah kecil, tetapi tidak berarti sebaliknya (jika daya yang dihasilkan oleh tubuh dalam jumlah kecil/sedikit maka besaran kemampuan gerak tidak bisa menjadi besar/tinggi)! Apabila kemampuan menghasilkan daya adalah besar, maka berarti ia dapat mewujudkan gerak/kerja dengan intensitas yang besar dan durasi yang lama.

Contohnya :
 Seseorang yang mempunyai VO2 max tinggi (mis. 70 ml/kg BB/men.) maka ia mampu melakukan kerja/latihan dalam waktu yang lama, dan tentu saja sangat mampu melakukannya (dengan intensitas yang sama) jika durasinya hanya singkat. Tetapi tidak sebaliknya, misalnya jika VO2 max-nya lebih rendah (mis. hanya 40 ml/kg BB/men) maka pada besaran intensitas tersebut di atas durasi gerakannya akan menjadi sangat terbatas (sangat singkat).
 Seseorang yang mampu melakukan Squat maksimal 200 kg (1 RM) akan berbeda jika dibandingkan dengan yang hanya mampu melakukan Squat maksimal 100 kg (1 RM).

Dalam kaitan dengan intensitas dan durasi ini terdapat tata hubungan fisiologis khusus yaitu: Bila intensitas gerak/kerja tinggi (besar), maka durasi gerak/kerja adalah pendek/singkat. Makin tinggi intensitas gerak/kerjanya, makin singkat durasinya. Jadi kalau mau memperpanjang durasi gerak/kerja, maka intensitas tidak boleh terlalu tinggi.

Kemampuan manusia menghasilkan daya terjadi melalui 2 mekanisme yaitu mekanisme anaerobik (tanpa menggunakan O2) dan mekanisme aerobik (dengan menggunakan O2). Intensitas gerak/kerja tergantung pada besar daya yang dihasilkan oleh mekanisme olahdaya (metabolisme) anaerobik. Makin besar daya yang dapat dihasilkan oleh mekanisme olahdaya anaerobik, makin besar intensitas gerak/kerja yang dapat diwujudkan. Pembentukan daya secara anaerobik diwujudkan melalui 2 (dua) mekanisme yaitu mekanisme anaerobik yang tanpa menghasilkan asam laktat (anaerobik alaktasid) dan mekanisme anaerobik yang menghasilkan asam laktat (anaerobik laktasid).
Pada tes Kebugaran Jasmani, daya dari mekanisme anaerobik alaktasid dipergunakan untuk mewujudkan gerakan-gerakan ledak (explosive) maximal.

Contoh gerakan-gerakan ledak :
 vertical jump,
 standing broad jump,
 sprint 30 M maximal.
 Lempar bola medis (3 kg)
 dan sejenisnya.

Daya dari mekanisme anaerobik laktasid dipergunakan untuk mewujudkan gerakan-gerakan daya tahan anaerobik (anaerobic endurance/ stamina).
Contoh:
 Lari dengan kecepatan maximal selama antara 1-2 menit.
 Lari kijang (speed bound) 300 meter.
 Berenang dengan kecepatan maksimal 200 meter.
 Push ups dengan irama cepat selama 1 menit.
 Lompat tinggi angkat paha dengan irama cepat selama 1 menit 30 detik.
 dan sejenisnya.

Dalam lingkup kemampuan anaerobik, kepentingan fungsional (peran) anaerobik alaktasid dan anaerobik laktasid adalah setara. Kapasitas anaerobik merupakan faktor pembatas kemampuan maximal primer oleh karena bila seluruh kapasitas anaerobik telah habis terpakai maka olahraga tidak mungkin dapat dilanjutkan, karena telah terjadi kelelahan yang mutlak (exhaustion), yaitu karena jumlah asam laktat di dalam tubuh tidak dapat ditoleransi lagi oleh tubuh. Kepentingan fungsional kemampuan anaerobik dan aerobik adalah juga setara. Oleh karena itu untuk memperoleh nilai Kebugaran Jasmani cara penghitungannya adalah sebagai berikut:

1. Tentukan nilai Kemampuan Anaerobik alaktasid dan Anaerobik laktasid
2. Hitung nilai kemampuan Anaerobik dengan menjumlahkan nilai kemampuan Anaerobik alaktasid dan nilai kemampuan Anaerobik laktasid kemudian dibagi 2 (dua)
3. Tentukan nilai Kemampuan Aerobik
4. Nilai Kebugaran Jasmani adalah jumlah kemampuan Anaerobik dan kemampuan Aerobik dibagi 2 (dua).
Agar nilai-nilai tersebut di atas dapat dijumlahkan, nilai-nilai tersebut harus diubah dulu menjadi T-score.
Rumus penghitungannya menjadi sebagai berikut:

[½ (anaerobik alaktasid + anaerobik laktasid) + aerobik]/2

Dalam hubungan dengan tes kebugaran jasmani, perlu diketahui tata-hubungan fungsional antara ES-I dengan ES-II, yang dalam perwujudan fungsionalnya adalah tata-hubungan antara kapasitas anaerobik dengan kapasitas aerobik. Aktivitas ES-I akan merangsang ES-II untuk menjadi aktif, yang selanjutnya aktivitas ES-II mendukung kelangsungan aktivitas ES-I, artinya tidak mungkin terjadi ES-II menjadi aktif tanpa adanya aktivitas ES-I (rangsangan dari ES-I). Sebaliknya tidak mungkin terjadi ada aktivitas ES-I dalam durasi yang panjang tanpa dukungan ES-II.

Besar olahdaya (metabolisme) anaerobik menunjukkan tingginya intensitas aktivitas ES-I (= intensitas kerja/ olahraga) yang sedang terjadi/ dilakukan, yang merupakan indikator mengenai tingginya kebutuhan atau tuntutan akan O2, sedangkan besar olahdaya aerobik menunjukkan berapa besar olahdaya anaerobik yang dapat diimbangi, yang berarti berapa besar kemampuan ES-II untuk memasok O2 pada saat itu.

Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa besar olahdaya aerobik yang terjadi ditentukan oleh besar rangsangan dari olahdaya anaerobik. Hal ini berarti bahwa besar olahdaya aerobik (besar pasokan O2) yang terjadi tidak mungkin melebihi besar olahdaya anaerobik (besar tuntutan akan O2) yang sedang berlangsung, kecuali pada pemulihan total atau parsial. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa faktor pembatas kapasitas anaerobik adalah kemampuan otot (dalam kondisi fungsi ES-I lainnya normal), sedangkan faktor pembatas kapasitas aerobik adalah kemampuan jantung (juga dalam hal fungsi komponen-komponen ES-II lainnya adalah normal). Di bawah ini adalah bagan mengenai Olahdaya selengkapnya.

Komponen saraf dari ES-I dengan fungsi koordinasinya menentukan kemampuan ketrampilan, khususnya kemampuan ketrampilan gerak (kemampuan koordinasi) hasil pembelajaran. Dengan demikian secara fisiologis terdapat tiga macam tes kebugaran jasmani yaitu tes kebugaran jasmani terhadap: (1) kapasitas anaerobik, yang terdiri dari tes kapasitas anaerobik alaktasid dan tes kapasitas anaerobik laktasid (2) kapasitas aerobik dan (3) kemampuan ketrampilan kecabangan olahraga.

Dalam penerapannya perlu kita mencermati siapa populasi yang akan menjalani tes Kebugaran Jasmani. Bila populasi yang akan dites sangat heterogen (masyarakat umum) misalnya warga sesuatu Kelurahan atau sesuatu RT, maka tes KJ cukup terhadap kapasitas aerobik saja, oleh karena tujuan sebenarnya adalah untuk mengetahui derajat sehat dinamis populasi tersebut. Hal itu juga berkaitan dengan pengertian bahwa apabila kapasitas aerobiknya (fungsi ES-II) baik, maka tidak mungkin fungsi ES-I-nya buruk, oleh karena kapasitas aerobik yang baik hanya dapat dirangsang oleh fungsi ES-I yang juga baik. Artinya kalau kapasitas aerobik baik, maka dapat dipastikan bahwa orang itu bukan orang yang malas melakukan aktivitas fisik/ olahraga. Dalam hal tes yang akan dilakukan terhadap populasi yang homogen atau ingin (melakukan seleksi) untuk mendapatkan kelompok yang homogen, misalnya ketika merekrut calon mahasiswa FPOK/FIK, maka terhadap populasi itu dilakukan pengukuran terhadap kemampuan fungsional ES-I (Anaerobik) dan ES-II (Aerobik), dan tidak dilakukan tes ketrampilan kecabangan Olahraga. Sedangkan bila ingin melakukan tes Kebugaran Jasmani terhadap kelompok khusus (menyeleksi Atlet suatu cabang Olahraga tertentu), maka terhadap populasi dikenakan tes terhadap ES-I, ES-II dan kemampuan Koordinasi (ketrampilan kecabangan) cabang Olahraga yang bersangkutan. Oleh karena itu selayaknyalah setiap cabang Olahraga mempunyai Tes Ketrampilan Kecabangannya masing-masing. Dan, tes kebugaran ini akan menjadi lebih special apabila dihadapkan pada pemilihan tingkat kemampuan atlet elit untuk melihat prestasi yang diharapkan, sehingga tes yang dilakukan lebih spesifik untuk menggambarkan kondisi prestasi yang sebenarnya. Mis. Seorang pelari sprint 110 M GW dan 400 M GW dibutuhkan parameter tes berupa : (1) kemampuan anaerob alaktasid : dash sprint 60m (20m – 30m – 60m), Triple Hop, 10 Hop, Max Squat 150 m; (2) kemampuan anaerob laktasid : 300 m, 600 m, (3) kemampuan aerob : 15’ run (VO2 max) ; (4) tes Koordinasi/indeks teknik gawang, yaitu membandingkan hasil tes lari gawang 60 m dengan hasil tes lari 60 m tanpa gawang, jika perbedaan indeks-nya kecil (≤ 3 dtk) maka ia mempunyai kualitas teknik lari gawang yang baik dan sebaliknya (≥ 3 dtk) tekniknya belum baik.

Di bawah ini diberikan skema penerapan tes Kebugaran Jasmani berdasarkan Konsep Kebugaran Jasmani menurut Ilmu Faal Olahraga.


Bagan : Tata urutan prioritas tes Kebugaran Jasmani

BAGAIMANA KONSEP DASAR FISIOLOGI YANG MENJADI LANDASAN PENYUSUNAN TES KEBUGARAN JASMANI INDONESIA (TKJI) ?
Berdasarkan Konsep dan Cara Penilaian Kebugaran Jasmani menurut sudut pandang Ilmu Faal Olahraga tersebut di atas, maka sesungguhnya terdapat kesalahan konsep dalam menghitung nilai Kebugaran Jasmani pada TKJI. Tes Kemampuan aerobik seharusnya tidak diposisikan sebagai salah satu butir dari 5 butir tes TKJI, karena dengan menempatkan tes itu sebagai salah satu butir tes dari 5 butir tes dalam TKJI, maka peran kemampuan aerobik hanya menjadi sebesar 20% saja dari nilai Kebugaran Jasmani Testee ybs. Sedangkan seharusnya peran itu adalah sebesar 50%.

KESIMPULAN
1. Physical Fitness dapat diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu : kesegaran jasmani, kesanggupan jasmani, kesamaptaan jasmani dan kebugaran jasmani. Kebugaran jasmani merupakan terjemahan yang paling populer.
2. Secara harfiah arti physical fitness atau kebugaran Jasmani ialah kecocokan fisik atau kesesuaian jasmani. Dengan demikian kebugaran jasmani ialah kecocokan syarat-syarat fisik terhadap tugas yang harus dilaksanakan oleh fisik itu, baik syarat anatomis dan khususnya syarat fisiologis yang harus dimiliki oleh individu yang bersangkutan.
3. Penerapan Tes Kebugaran Jasmani harus dengan memperhatikan siapa populasi yang akan dites demi pencapaian tujuan tes dan efisiensi pelaksanaannya, karena pada dasarnya tes Kebugaran Jasmani dilakukan untuk mengetahui derajat sehat dinamis populasi yang bersangkutan pada saat itu.
4. Pengukuran tingkat kebugaran jasmani untuk kelompok Atlet sesuatu cabang Olahraga harus dilakukan dengan mengukur semua kemampuan fungsional yang harus dimiliki Atlet yang bersangkutan yang meliputi komponen kemampuan fungsional ES-1, kemampuan fungsional ES-2, dan tingkat penguasaan ketrampilan koordinasi (skill) kecabangan Olahraga yang ditekuninya.
5. Kesalahan pada TKJI ialah karena memposisikan nilai kemampuan aerobik sebagai salah satu dari 5 (lima) butir TKJI, sehingga nilai Kemampuan aerobik hanya menjadi tinggal 20% dari seluruh nilai Kebugaran Jasmani. Seharusnya nilai Kemampuan aerobik adalah 50% dari seluruh nilai Kebugaran Jasmani. Konsep dasar fisiologi TKJI perlu dikaji ulang dan dengan sendirinya juga cara penghi-tungannya.

KEPUSTAKAAN
1. Giriwijoyo,Y.S.S. (1992) : Ilmu Faal Olahraga, Buku perkuliahan Mahasiswa FPOK-IKIP Bandung.
2. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2000) : Olahraga Kesehatan, Bahan perkuliahan Mahasiswa FPOK-UPI.
3. Giriwijoyo, H.Y.S.S. dkk. (2000) : Makalah : Pelatihan “Tenaga Dalam” melalui Senam Pagi Indonesia, Pengaruhnya terhadap berbagai kemampuan Statis, Dinamis Anaerobik dan Dinamis Aerobik. Disajikan dalam Kongres dan Seminar Nasional Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia, Denpasar, 13-17 Oktober 2002.
4. Karpovich, P.V. and Sinning, W.E.: Physiology of Muscular Activity, Chapter Sventeen: Health, Physical Fitness and Age, pg. 266-280; Chapter Eighteen: Tests of Physical Fitness, pg 281-294. W.B.Saunders Co. Philadelphia-London-Toronto, 1971.

Penulis
*) H.Y.S. Santosa Giriwijoyo, Prof. Emeritus, Drs. Physiol., Drs. Med., Dokter, Ahli Ilmu Faal dan Ilmu Faal Olahraga, pada Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia (IAIFI) Komisariat Bandung dan Jurusan/Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Indonesia.
**) Dikdik Zafar Sidik, Doktor, M.Pd., S.Pd. Olahraga, Jurusan Pendidikan Kepela-tihan Olahraga, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Indonesia.

Bandung, 23 Februari 2010.

Maret 20, 2011 at 5:07 pm 3 komentar

KONSEP DAN CARA PENILAIAN KEBUGARAN JASMANI MENURUT SUDUT PANDANG ILMU FAAL OLAHRAGA (bag.1)

KONSEP DAN CARA PENILAIAN KEBUGARAN JASMANI MENURUT SUDUT PANDANG ILMU FAAL OLAHRAGA

Y.S.Santosa Giriwijoyo*)dan Dikdik Zafar Sidik**)

ABSTRAK

Kebugaran Jasmani lebih merupakan terjemahan dari Physiological fitness. Secara Fisiologis kemampuan fungsional jasmani terdiri dari kemampuan anae-robik dan kemampuan aerobik. Kemampuan anaerobik terdiri dari kemampuan anaerobik alaktasid dan kemampuan anaerobik laktasid. Kemampuan anaerobik alaktasid adalah kemampuan untuk mewujudkan gerak ledak (gerak explosive) maximal maupun sub-maximal, kemampuan anaerobik laktasid adalah kemampuan untuk mewujudkan gerak ketahanan anaerobik (anaerobic endurance/stamina), sedangkan kemampuan aerobik adalah kemampuan untuk mewujudkan gerak ketahanan umum seperti misalnya pada lari maximal maupun sub-maximal dengan durasi 8 menit atau lebih. Tes adalah uji kemampuan maximal. Dengan demikian tes Kebugaran Jasmani (KJ) adalah uji kemampuan maximal untuk menilai kemampuan anaerobik (alaktasid dan laktasid) dan kemampuan aerobik. Kemampun anaerobik dan kemampuan aerobik merupakan kemampuan fungsional jasmani dengan kepentingan yang setara. Demikian juga kepentingan fungsional anaerobik alaktasid dan laktasid adalah setara. Oleh karena itu berdasarkan konsep kesetaraan fungsional ini, maka penilaian KJ adalah penjumlahan dari nilai kemampuan anaerobik (jumlah kemampuan anaerobik alaktasid ditambah kemampuan anaerobik laktasid dibagi dua) ditambah dengan nilai kemampuan aerobik dibagi dua, dengan rumus sebagai berikut:

[(½ (anaerobik alaktasid + anaerobik laktasid) + aerobik)]/2

Pada Tes Kebugaran Jasmani Indonesia (TKJI) tidak jelas konsep fisiologis dan cara penghitungannya. Kesalahan yang nyata ialah memposisikan butir (item) tes kemampuan aerobik sebagai salah satu dari 5 (lima) butir TKJI, maka peran fungsional kemampuaan aerobik hanya 20 %  saja (100 % : 5) dari seluruh nilai TKJI itu, padahal kontribusi peran itu adalah 50%.

PENDAHULUAN

Physical Fitness selain diterjemahkan sebagai kebugaran jasmani, diterjemahkan pula dengan istilah-istilah lain misalnyan: kesegaran jasma-ni, kesanggupan jasmani dan kesamaptaan jasmani. Dalam perkembang-annya, istilah Kebugaran jasmani menjadi terjemahan yang paling populer bagi istilah Physical Fitness. Untuk dapat memahami arti kebugaran jasmani, perlu ditelusuri kembali dari istilah asalnya.

Secara harfiah arti physical fitness ialah kecocokan fisik atau kesesuaian jasmani. Tetapi Fit juga dapat berarti sehat, sehingga fitness  dapat berarti Kesehatan.

Dalam naskah ini bahasan akan bertitik tolak dari pengertian fitness sebagai kecocokan fisik atau kesesuaian jasmani. Dari pengertian ini berarti ada sesuatu yang harus cocok dengan fisik atau jasmani itu, yaitu macam atau beratnya tugas yang harus dilaksanakan oleh fisik atau jasmani itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebugaran jasmani ialah kecocokan keadaan fisik terhadap tugas yang harus dilaksanakan oleh fisik itu.  Artinya diperlukan syarat-syarat fisik tertentu untuk dapat melaksanakan tugas fisik itu.  Pengertian ini masih memerlukan penjabaran lebih lanjut, khususnya dalam kaitan dengan syarat-syarat fisik tertentu yang bersifat :

 Anatomis (Struktural)Dari pengertian ini timbul istilah Anatomical (Structural) fitness yaitu kesesuaian struktur anatomis jasmani terhadap tugas fisik yang harus dilaksanakan.

 Fisiologis (Fungsional)Dari pengertian ini timbul istilah Physiological (Functional) fitness yaitu kesesuaian fungsí fisiologis jasmani terhadap tugas fisik yang harus dilaksanakan.

Dengan demikian Physical fitness terdiri dari 2 bagian yaitu : Anatomical (Structural) fitness dan Physiological (Functional) fitness.

Anatomical fitness (Kesesuaian Anatomik) :

Berhubungan dengan masalah-masalah yang bersifat anatomis yaitu: kesesuaian kondisi struktur tubuh, seperti – tinggi badan- berat badan- kelengkapan anggota badan- ukuran berbagai bagian badan.

Terhadap tugas fisik.

Physiological fitness (Kesesuaian Fisiologik) :

Berhubungan dengan masalah-masalah yang bersifat fisiologis yaitu:

Tingkat kemampuan menyesuaikan fungsi alat-alat tubuhnya terhadap:

-   keadaan lingkungan:- suhu- kelembaban- ketinggian- sifat medan, dan/atau

-   tugas fisik:- berbagai bentuk kegiatan dan beban (intensitas) kerja jasmaniah, secara fisiologis yaitu: • alat-alat tubuh berfungsi dalam batas-batas normal• efisien• tidak terjadi kelelahan yang berlebihan atau yang bersifat kumulatif.• telah pulih sempurna sebelum datang tugas yang sama pada esok harinya.

Pada saat ini pengertian Physical fitness lebih bertitik berat pada Physiological fitness yang pada hakekatnya berarti : Tingkat kesesuaian derajat sehat dinamis yang dimiliki oleh si pelaksana terhadap beratnya tugas fisik yang harus dilaksanakan. Penitik-beratan kepada Physiological fitness disebabkan oleh karena mengembangkan kemampuan fungsional (fungsi fisiologis) tubuh lebih memberikan hasil yang nyata bila dibandingkan dengan mengembangkan struktur tubuh (struktur anatomis).

Contoh: Tatkala fungsi otot (kekuatan dan daya tahan otot) berkembang menjadi 3x kemampuannya sebelum dilatih, perubahan struktur otot (besar otot) tidak akan menjadi 3x sebelum dilatih.  (Hasil tes awal kemampuan Arm Curl si A = 10 kg dengan diameter lengan pada biceps dan triceps = 25 cm, setelah berlatih kemampuannya meningkat menjadi = 30 kg, ternyata diameternya hanya meningkat menjadi 28 cm)

Telah disebutkan di atas bahwa kebugaran jasmani ialah kecocokan keadaan fisik terhadap tugas yang harus dilaksanakan oleh fisik itu.  Oleh karena itu maka kebugaran jasmani bersifat relatif (related), baik secara anatomis maupun fisiologis, artinya fit atau tidaknya seseorang selalu dalam hubungan dengan tugas fisik yang harus dilaksanakan.

bersambung ke bagian 2

Maret 20, 2011 at 4:17 pm 3 komentar

OXIGEN, AIR DAN PANGAN

H.Y.S.Santosa Giriwijoyo

Pendahuluan

Oxigen, air dan pangan merupakan kebutuhan hidup yang paling pokok bagi manusia. Pengadaan dari ketiga kebutuhan paling pokok ini terjadi melalui satu rangkaian proses alami yang kait mengait erat tidak terpisahkan. Keberadaannya di muka bumi ini sungguh hanya karena Kebesaran dan Kemurahan Allah swt., namun dituntut perilaku manusia yang pandai bersyukur, menyayangi lingkungan hidupnya dan tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Tetapi tahukah Anda apa wujud Oxigen, di mana dapat diperoleh dan mengapa Oxigen tidak kunjung habis sekalipun dikonsumsi oleh manusia dan bahkan hewan di seluruh jagat raya ini, bahkan sudah selama berabad-abad pula? Sadarkah kita bahwa tidak pernah terpikirkan oleh kita untuk membekali diri dengan Oxigen tatkala kita mau bepergian ke luar kota atau ke manapun? Mengapa kita begitu yakin bahwa Oxigen akan selalu ada ke manapun kita bepergian di muka bumi ini?

Maha besar Allah dengan segala kemurahanNya, yang telah menciptakan dan menebarkan Oxigen di udara seluruh muka bumi ini, dan dikaruniakan secara gratis bagi seluruh umat manusia dan bahkan hewan. Tanpa Oxigen manusia hanya dapat bertahan hidup tidak lebih dari 10 menit!

Air adalah bahan kebutuhan hidup pokok terpenting kedua setelah Oxigen. Bagian terbesar dari tubuh kita yang meliputi sejumlah 70% dari berat badan adalah air. Air diperlukan manusia sebagai wahana untuk memasok zat-zat makanan dan membuang sampah olahdaya (metabolisme) yang merupakan racun bagi tubuh. Air juga diperlukan untuk menata suhu tubuh. Tanpa air, orang hanya dapat bertahan hidup tidak lebih dari 3-4 hari.

Pangan adalah bahan kebutuhan hidup pokok urutan ketiga setelah Oxigen dan Air. Tanpa pangan orang masih dapat bertahan hidup selama satu sampai dua minggu, asal masih dapat memperoleh air dan Oxigen. Tanpa Oxigen maka air dan pangan menjadi tidak ada artinya.

Oxigen

Dari ketiga bahan tersebut di atas, Oxigen merupakan kebutuhan hidup kita yang paling pokok, karena menit demi menit dari kehidupan kita tidak mungkin lepas dari Oxigen. Hal ini disebabkan oleh karena manusia adalah memang mahluk aerobik. Artinya kehidupan manusia sangat tergantung kepada keberadaan Oxigen. Kualitas hidup, kenikmatan hidup dan kesejahteraan hidup manusia bergantung kepada apakah ia mampu memenuhi kebutuhan Oxigen bagi dirinya, baik pada istirahat maupun ketika tubuh memerlukan lebih banyak Oxigen, seperti misalnya tatkala bekerja fisik atau melakukan Olahraga berat.

Oxigen tidak dapat ditimbun dalam tubuh kita, artinya kebutuhan akan Oxigen pada sesuatu saat, harus dipenuhi pada saat itu juga. Oleh karena itu demi kebahagiaan hidup kita, kita harus membuat diri menjadi orang yang selalu mampu memenuhi kebutuhan hidup kita akan Oxigen, artinya menjadi orang yang pandai mengambil dan memasok Oxigen bagi dirinya dan pandai menggunakannya secara efisien.
Oxigen dikaruniakan Allah secara cuma-cuma dan ditebarkaan di udara. Setiap orang boleh mengambil oxigen sesuai kemauan dan kemampuannya, tidak ada yang melarang dan tidak ada yang membatasi. Siapa yang mampu mengambil Oxigen dalam jumlah yang lebih banyak, dan mampu menggunakannya secara efisien, akan mempunyai kehidupan yang lebih nikmat, lebih sehat dan lebih sejahtera.

Akan tetapi kepandaian dan kemampuan untuk mengambil dan menggunakan Oxigen secara adekuat dan efisien, hanya dapat diperoleh bila orang mau berjuang untuk mendapatkan kepandaian dan kemampuan itu; Jer basuki mawa bea kata orang Jawa, yang artinya kesejahteraan hanya dapat diperoleh melalui perjuangan! Untuk memperoleh kepandaian menggunakan Oxigen secara efisien, orang harus mau berlatih Olahraga Tenaga Dalam atau Olahraga Pernafasan, sedangkan untuk menjadi orang yang pandai mengambil Oxigen, orang harus mau berlatih Olahraga Aerobik.

Olahraga Tenaga Dalam atau Olahraga Pernafasan akan meningkatkan kapasitas Anaerobik, sedangkan Olahraga Aerobik akan meningkatkan kapasitas aerobik. Olahraga aerobik sudah dikenal begitu luas di masyarakat, sedangkan Olahraga Anaerobik (Olahraga Tenaga Dalam) memerlukan sedikit pembahasan. Namun bagaimana tata-cara pelaksanaan kedua macam Olahraga tersebut, khususnya Olahraga Tenaga Dalam tidak dibahas pada kesempatan ini.

Mengapa Oxigen tidak kunjung habis walaupun dikonsumsi oleh manusia dan bahkan hewan di seluruh jagat raya ini? Maha suci Tuhan yang telah menciptakan serba berpasangan segala sesuatu yang digelar-tumbuhkan di muka bumi…….(Q.S.36: 36)! Oxigen dipergunakan untuk memelihara kehidupan khususnya oleh manusia dan hewan, dan dalam pengertian berpasangan maka Oxigen harus di bentuk kembali oleh Alam agar Oxigen tidak menjadi habis. Manusia memakai/ menggunakan Oxigen untuk proses biologik dalam tubuhnya dan untuk proses teknologik bagi kenikmatan kehidupannya yaitu untuk menjalankan mesin-mesin produksi dan transportasi.

Untuk setiap pemakaian Oxigen, dihasilkan sisa yang berbentuk gas yaitu gas CO2. Dalam lingkup pengertian berpasangan maka bersamaan dengan dihasilkannya gas CO2, juga dibuat Oxigen (O2) oleh Chlorofil yang terdapat dalam dedaunan hijau dari bahan gas CO2 dan air, yang sekaligus juga membuat bahan pangan, seperti terlihat pada reaksi kimia di bawah ini.

n CO2 + n H2O ==>> (CH2O)n + n O2
Air (Karbohidrat: Padi2an, Oxigen
Buah2an dan umbi2an)

Dari persamaan reaksi kimia di atas terlihat bahwa apabila semua CO2 yang dihasilkan oleh perilaku manusia di dunia ini dapat diserap oleh dedaunan hijau yang terdapat di Alam raya ini, maka banyaknya Oxigen (O2) yang dihasilkan oleh Alam raya ini sama banyaknya dengan CO2 yang dihasilkan oleh perilaku manusia. Tumbuh-tumbuhan hijau di samping menghasilkan Oxigen juga menghasilkan bahan pangan terutama karbohidrat dalam bentuk padi-padian, buah-buahan dan umbi-umbian yang merupakan bahan pangan bagi manusia dan juga hewan.

Selama jumlah CO2 yang dihasilkan dan yang diserap oleh dedaunan hijau untuk dibentuk kembali menjadi oxigen dan bahan pangan dalam keadaan seimbang, tidak akan terjadi perubahan kondisi lingkungan Alam dan kenyamanan hidup. Tetapi apa lacur produksi CO2 oleh industri dan transportasi (perilaku manusia) semakin meningkat dan melebihi kemampuan alam menyerap CO2, sementara di pihak lain terjadi perilaku manusia berupa perusakan dan perambahan hutan, maka terjadilah ketidak-seimbangan antara pembentukan CO2 yang melebihi kemampuan Alam untuk menyerapnya.

Sungguh, bukan Allah menganiaya menusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri! Keadaan ini menyebabkan terjadinya pemanasan global, artinya Dunia menjadi lebih panas karena terjadinya efek rumah kaca, yaitu karena panas bumi yang diperoleh dari matahari yang seharusnya dibuang kembali ke luar (ke angkasa), dipantulkan kembali ke bumi oleh lapisan CO2 yang membentuk atap rumah kaca.

Air dan pangan

Air adalah bahan kebutuhan hidup pokok terpenting kedua setelah Oxigen. Bagian terbesar dari tubuh kita meliputi 70% dari berat badan adalah air. Air diperlukan manusia sebagai wahana untuk memasok zat-zat pangan kepada sel-sel tubuh kita dan membuang sampah olahdaya (metabolisme) yang dihasilkan oleh sel-sel yang merupakan racun bagi tubuh, ke luar dari tubuh. Air juga diperlukan untuk menata suhu tubuh. Tanpa air, orang hanya dapat bertahan hidup tidak lebih dari 3-4 hari.

Dari mana datangnya air? Dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 32 dikemukakan bahwa “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, serta menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dari air hujan itu berbagai buah-buahan untuk menjadi rezeki bagimu …………” Air yang jatuh di hutan-hutan pegunungan, akan ditahan oleh akar-akar pepohonan hutan sehingga akan turun ke bawah secara perlahan-lahan, bermula sebagai mata air yang jernih yang sangat baik bagi keperluan minum dan masak, dan selanjutnya ke hilir menjadi sungai yang jernih bagi keperluan pertanian, perikanan dan peternakan. Akar-akar pepohonan dengan demikian juga akan mencegah terjadinya penggerusan dan longsornya tanah. Oleh karena itu bila hutan di daerah pegunungan dirusak dengan menebang pepohonan apalagi dalam jumlah besar dan tanpa mau menanam kembali, akan menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor di musim hujan, disertai mata air dan sungai yang keruh, dan kesulitan mendapatkan air bersih.

Dalam kaitan dengan masalah air dan larangan membuat kerusakan di muka bumi, Allah dalam Qur’an Surat Al Baqarah ayat 60 berfirman: “Dan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu’. Lalu memancarlah dua belas mata air. Sungguh tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. Makan dan minumlah rezeki yang diberikan Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan”. Merusak hutan di wilayah ketinggian (pegunungan), akan menghasilkan kondisi yang menyedihkan di musim kemarau yaitu akan terjadi kekeringan dan tentu saja juga kesulitan mendapatkan air bersih maupun air untuk keperluan pertanian maupun perikanan dan bahkan peternakan, yang disebabkan menjadi sulitnya mendapatkan pakan bagi ternak. Demikianlah maka dampak lebih lanjut dari kesulitan mendapatkan air adalah kesulitan mendapatkan pangan dan mahalnya harga pangan.

Jelas sudah bahwa Oxigen, air dan pangan, khususnya Oxigen memang merupakan kebutuhan hidup yang paling pokok bagi manusia. Demikian pula telah dijelaskan bahwa pengadaan ketiga kebutuhan hidup manusia paling pokok ini terjadi melalui satu rangkaian proses alami yang kait mengait erat tidak terpisahkan, dan oleh karena itu sungguh benar pula bahwa keberadaan ketiga kebutuhan paling pokok di muka bumi ini hanya karena Kebesaran dan Kemurahan Allah swt., namun sangat benar pula dituntut perilaku manusia yang pandai bersyukur, menyayangi lingkungan hidupnya dan tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi. Oleh karena itu dalam rangka menghambat berlanjutnya pemanasan bumi, terjadinya banjir dan longsor dimusim hujan dan terjadinya kekeringan di musim kemarau, setiap orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah wajib berperan serta dalam upaya menghambat laju pemanasan bumi ini. Sekecil apapun peran serta kita, bila diniatkan untuk ibadah dan bertaubat, insya Allah akan menjadi pahala bagi yang bersangkutan dan rahmatan lil ‘alamin.

Wujud peran serta kita yang kecil ini ialah marilah kita, baik secara bersama maupun secara sendiri-sendiri, menanam pohon-pohon keras yang berakar kuat dan berdaun lebat. Akar yang kuat akan menjadi penahan air dan tanah longsor, daun yang lebat (banyak) merupakan pabrik oxigen, sukur apabila pohon itu juga berbuah pangan.

Jangan pernah merasa rugi bila buah pohon itu “dicuri” orang, karena siapapun yang memakannya berarti kita telah memberi makan kepada orang yang membutuhkan, asalkan tidak merusak pohonnya. Jadi tanamlah pohon itu di lahan-lahan terbuka, di tempat-tempat yang rawan longsor dan bahkan di tepi jalan umum, sebagai bagian dari upaya kita memerangi dampak produksi CO2 dunia yang berlebihan, meningkatkan kenyamanan lingkungan, menghambat laju pemanasan global dan mewujudkan rasa sukur kita ke hadirat Allah swt.. Moga Allah senantiasa melimpahkan perlindungan dan kasih sayangNya kepada kita sekalian. Amin ya Robbal ‘alamiin!

Bandung, 10 Dzulhijjah 1429 H.

Januari 8, 2009 at 5:09 pm 3 komentar

Kesehatan, Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga Di (Usia) Sekolah Dasar

Meningkatkan kualitas hidup siswa masa kini, dan mempersiapkan mutu sumber daya manusia, dan atlet elite masa depan

Oleh :
H.Y.S.Santosa Giriwijoyo,
Drs Physiol., Drs Med., Dokter, Prof. (Emeritus) Ilmu Faal dan Ilmu Faal Olahraga

Fakultas Pendidikan Olahraga
dan
Kesehatan

Universitas Pendidikan Indonesia
2008

Kesehatan, Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga
Di (Usia) Sekolah Dasar

Oleh :
H.Y.S.Santosa Giriwijoyo,
Drs Physiol., Drs Med., Dokter, Prof.(Emeritus) Ilmu Faal dan Ilmu Faal Olahraga
Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

Universitas Pendidikan Indonesia
2008

Anak (usia SD):
– kenyataan masa kini dan
– harapan masa depan,
perlu dibina pertumbuhan dan perkembangannya untuk masa kini maupun untuk masa depan..

Lembaga Pendidikan : Lembaga formal pembinaan anak masa kini dan masa depan:
* Siswa sehat dan unggul masa kini
* SDM bermutu masa depan
* Atlet elite masa depan. Diperlukan waktu 8-12 tahun untuk dapat menjadi Atlet elite bagi anak yang terus dan terus berolahraga dengan tekun –> jangan pernah kecewakan anak dalam olahraga.

Masa pertumbuhan dan perkembangan anak:
* masa pembentukan Pengetahuan dan Kecerdasan (Domain Kognitif)
* masa internalisasi nilai-nilai moral, sosial dan kultural (Domain Afektif)
* masa pembelajaran gerak ketrampilan dasar (keolahragaaan) dan pembentukan pola perilaku (Domain Psikomotorik).

Sehat dan Kesehatan.

- Sehat: Modal dasar bagi segala aktivitas jasmani, rohani maupun sosial.
– Acuan Sehat: Rumusan Organisasi Kesehatan Dunia (Sehat Paripurna): Sejahtera Jasmani, Rohani dan Sosial, bukan hanya bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan.
– Harus dipelihara, bahkan ditingkatkan
– Memelihara dan meningkatkan kesehatan: cara terpenting, termurah dan fisiologis adalah Olahraga (kesehatan).
– Seluruh Siswa/ anak usia SD perlu Olahraga:
– sebagai konsumsi yaitu mendapatkan manfaat langsung dari melakukan kegiatan Olahraga,
– sebagai media bagi Pendidikan.

Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga (Penjas-Or).
– Bagian dr kurikulum standar Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah.
– Pendidikan Jasmani: pendidikan dengan media kegiatan Jasmani
– Hanya Penjas-Or yang dapat menyentuh secara massif ketiga aspek sehatnya WHO ? Sangat penting bagi pembinaan anak.
– (Pembelajaran) Olahraga = pelatihan Jasmani
– Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Penjas-Or) intra kurikuler = Pendidikan dan Pelatihan Jasmani menuju sejahtera paripurna (Jasmani, Rohani dan Sosial) = peningkatan mutu sumber daya manusia (Siswa) masa kini dan masa depan.

Sayang Penjas-Or masih sering dilecehkan; menjelang ujian, Penjas-Or dihapus! Alasan: agar para siswa “tidak terganggu” dalam belajarnya(¿!).

Gerak – Olahraga.
* Olahraga = gerak raga yang teratur dan terencana dengan intensitas yang sesuai untuk keperluan berbagai tujuan (pendidikan, kesehatan, rekreasi, prestasi)
* Gerak = ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu bergerak.
* Memelihara gerak = mempertahankan hidup,
* Meningkatkan kemampuan gerak = meningkatkan kualitas hidup.
* Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.
* Olahraga = kebutuhan hidup:
o merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial
o merangsang kecerdasan intelektual
o menyehatkan dan mencegah penyakit non-infeksi
* Hanya orang yang mau bergerak-berolahraga yang akan mendapatkan manfaat dari Olahraga.

Konsep Dasar (Pembelajaran) Olahraga intra kuri-kuler di Sekolah Dasar.
* Massaal, mudah, murah, menggembirakan, manfaat dan aman !
* Padat gerak, menekankan pengembangan dan pengayaan kemampuan menguasai koordinasi berbagai macam gerak (dasar)
* Singkat dan adekuat (durasi 10-30 menit tanpa henti, intensitas 65-80% DNM),
* Semua siswa hrs berpartisipasi aktif, tidak ada siswa yang hanya menjadi penonton
* Menyehatkan masa kini dan mempersiapkan SDM bermutu bagi masa depan
* Membekali kemampuan koordinasi gerak utk menjadi Atlet elite masa depan
* Untuk usia SD tidak perlu ada pemisahan jenis kelamin (Watson,1992),
* Olahraga Kesehatan: intensitas (takaran) sedang, bukan olahraga berat !

Bagan konsep (Pembelajaran) Olahraga di (usia) Sekolah Dasar:

Kotak Memori

Kemampuan koordinasi: ???? Or kemampuan dasar:
–> Pembelajaran: –> Pelatihan:
* KETRAMPILAN GERAK : * KESEHATAN : – Akurasi gerak/ keindahan gerak: – Anaerobik dan aerobik:
* Gerak berirama: Tari, Senam aerobik, dsb ? Sehat dinamis
* Gerak komplex: Senam irama, p.silat, karate, dsb –> Kebugaran Jasmani
* Pembekalan mjd Atl elit masa depan.
(Pengayaan kemampuan koordinasi gerak)
* Intensitas sesuai utk tujuan Or-Kes Kesehatan.
* Pembelajaran ketrampilan gerak dasar (kemampuan koordinasi) akan masuk ke dalam kotak memori oleh karena itu pembelajaran ketrampilan gerak dasar harus bersifat pengalaman dan pengayaan, yang akan tersimpan menjadi kekayaan gerak (dalam kotak memori) untuk keperluan pembelajaran ketrampilan gerak kecabangan olahraga di masa depan, atau untuk dipergunakan lagi dimasa yg akan datang.
* Pelatihan (untuk meningkatkan) kemampuan dasar tidak masuk ke kotak memori, artinya tidak dapat disimpan dan harus senantiasa dipelihara agar sesuai dengan kebutuhan masa kini. Artinya sehat dinamis / kebugaran jasmani harus senantiasa dipelihara agar sesuai dengan kebutuhan masa kini.
* Pembelajaran dapat dilakukan dengan intensitas yang adekuat (denyut nadi mencapai 60-85% DNM), sehingga sekaligus menjadi Pelatihan untuk memelihara / meningkatkan derajat sehat dinamis/ kebugaran jasmani.
* Sehat Dinamis hanya dapat diperoleh bila ada kemauan mendinamiskan diri sendiri Hukumnya = makan : Siapa yang makan, dia yang kenyang ! Siapa yang mengolah-raganya, dia yang sehat ! Tidak diolah berarti siap dibungkus ! Klub Olahraga Kesehatan (Or-Kes) = Lembaga Pelayanan Kesehatan (Dinamis) di lapangan.
* Lembaga Pendidikan Umum (Sekolah) Dasar harus berfungsi sbg Lembaga Pelayanan Kesehatan lapangan, dalam rangka program pokok Meningkatkan kualitas hidup anak (siswa) masa kini, maupun mutu sumber daya manusia masa depan dan atlet elite masa depan.
* Takaran Or-Kes ibarat makan:
o berhenti makan menjelang kenyang
o tidak makan dapat menjadi sakit
o kelebihan makan mengundang penyakit.
* Jadi berolahragalah secukupnya (adekuat), jangan tidak berolahraga karena kalau tidak berolahraga mudah menjadi sakit, sebaliknya kalau berolahraga berlebihan dapat menyebabkan sakit !

Makna dan Misi Pendidikan Jasmani dan (Pembela-jaran) Olahraga di Lembaga Pendidikan.
* Lembaga Pendidikan = Lembaga formal pembinaan mutu sumber daya manusia terpenting. Membina anak (siswa) menjadi sumber daya manusia yang unggul dalam aspek jasmani, rohani dan sosial melalui berbagai bentuk media pendidikan dan keilmuan yang sesuai.
* Acuan tertinggi mutu SDM ??SEHAT WHO: SDM yang Sejahtera jasmani, rohani dan sosial, bukan hanya bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan. Sehat WHO = konsep sehat sempurna ? sehat yang menjadi cita-cita, tujuan atau acuan pembinaan mutu SDM.

Pendidikan Jasmani = kegiatan jasmani untuk media pendidikan. Pendidikan adalah proses mengembangkan:
* Domain kognitif = Pengetahuan / keilmuan
* Domain afektif :
o Sikap rohaniah meliputi: aspek mental, intelektual dan spiritual,
o Sikap sosial yang sesuai dengan pengetahuan baru yang telah diperolehnya, yang sesuai dengan norma sosial kehidupan masyarakat, yang diperoleh melalui Pendidikan Jasmani. Pendidikan jasmani adalah pendidikan melalui pendekatan ke aspek sejahtera Jasmani, sejahtera Rohani dan sejahtera Sosial melalui kegiatan jasmani, untuk menghasilkan manusia-manusia yang santun, bukan bobotoh (supporters) yg merusak.
* Domain psikomotor = perilaku sehari-hari yang sesuai dengan pengetahuan baru yang telah diperolehnya melalui Penjas-Or.

Olahraga (Intra Kurikuler) ? kegiatan jasmani untuk Pembelajaran dan Pelatihan jasmani = kegiatan jasmani untuk memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar. Merupakan pendekatan ke aspek sejahtera jasmani atau sehat jasmani (sehat dinamis) = sehat dikala bergerak utk dpt memenuhi segala tuntutan gerak kehidupan sehari-hari anak dalam tugasnya sebagai siswa; yaitu memiliki tingkat Kebugaran Jasmani yang adekuat (memadai) dan untuk mempersiapkan anak menjadi Atlet masa depan. Olahraga intra kurikuler adalah Olahraga massaal, BUKAN olahraga kecabangan .

Olahraga massaal: olahraga yang (dapat) dilakukan sejumlah besar orang secara bersamaan / beramai-ramai = olahraga masyarakat, hakekatnya adalah olahraga kesehatan: karena tujuan utamanya yaitu memelihara atau meningkatkan derajat sehat (dinamis), di samping dapat pula untuk tujuan rekreasi dan sosialisasi. Olahraga masyarakat atau olahraga kesehatan dapat mewujudkan kebersamaan dan kesetaraan dalam berolahraga oleh karena tidak ada tuntutan ketrampilan olahraga tertentu sehingga semua orang merasa akan bisa dan setara. Dengan demikian maka olahraga kesehatan (Or-Kes) atau olahraga masyarakat (Or-Masy) merupakan bentuk pendekatan ke aspek sejahtera rohani dan terutama ke aspek sejahtera sosial (sehat sosial = kebugaran sosial).

Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga intra Kurikuler:
* Membina mutu sumber daya manusia (anak) seutuhnya untuk masa kini maupun untuk masa depan, untuk mendapatkan manusia yang sehat / bugar seutuhnya atau sejahtera seutuhnya yaitu sejahtera jasmani, rohani dan sosial sesuai rumusan sehat WHO.
* Anak yang berolahraga dan terus berolahraga dalam cabang Olahraga pilihannya (extra kurikuler), adalah atlet elite masa depan. Oleh karena itu para Pembina Olahraga Anak dan khususnya para Guru Penjas-Or di Sekolah, tidak boleh membuat anak menjadi frustrasi dalam berolahraga!

Domain Afektif dan Domain Psikomotor dari Pendidikan Jasmani tidak dibahas dlam naskah ini.

Olahraga Kesehatan :
– Intensitasnya sedang, setingkat di atas intensitas aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari, jadi bukan olahraga berat
– Titik berat Olahraga (Kesehatan) intra kurikuler adalah: Pengembangan dan pengayaan kemampuan koordinasi gerak dengan intensitas yang dapat merangsang dan / atau memelihara derajat Kesehatan, untuk kebutuhan anak pada masa kini dan mempersiapkan anak menjadi Atlet elite masa depan.
– Meningkatkan derajat kesehatan dinamis – sehat dengan kemampuan gerak yang dapat memenuhi kebutuhan gerak sehari-hari dalam tugasnya sebagai siswa.
– Bersifat padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), mudah, murah, menggembirakan, massaal, fisiologis (manfaat & aman).
– Massaal : – Ajang silaturahim ? Sejahtera Rohani dan Sosial
– Ajang pencerahan stress ? Sejahtera Rohani
– Ajang komunikasi sosial ? Sejahtera Sosial
Ketiga hal diatas merupakan pendukung untuk menuju Sehatnya WHO ? Sejahtera Paripurna.
– Sehat dinamis dan kemampuan koordinasi gerak (mampu memperagakan berbagai gerak secara lincah dan akurat merupakan landasan bagi pelatihan ketrampilan kecabangan Olahraga Prestasi.
– Dalam pelaksanaan Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) ollahraga intra kurikuler seluruh siswa harus terlibat aktif, tidak boleh ada siswa yang hanya menjadi Penonton, demi mendapatkan manfaat dari proses Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga yang sedang dilaksanakan.

Kondisi Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga di Sekolah Dasar saat ini.
– Waktu = 3 x 45 menit/minggu
– Sarana – prasarana sangat terbatas
– Kurikulum Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga pada saat ini lebih berorientasi kepada Olahraga Kecabangan :
1. Cenderung individual dan cenderung mengacu pencapaian prestasi
2. Olahraga prestasi mahal dalam hal :
o Sarana – prasarana
o Waktu, perlu masa pelatihan yang panjang
o Tenaga dan biaya.
– Olahraga kecabangan/ prestasi hendaknya menjadi pilihan dan diselenggarakan sebagai kegiatan extra kurikuler.

Demi kenyataan Masa Kini dan Harapan bagi Masa Depan:
1. Reposisi : pikir ulang apa perlunya Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga di (usia) SD secara intra kurikuler?
Penjas-Or perlu dikembalikan pada posisi dasar fungsinya yaitu :
– Penggunaan Olahraga/Kegiatan Jasmani sebagai media Pendidikan
– Penggunaan Olahraga sebagai alat pelatihan untuk memelihara dan meningkatkan derajat sehat dinamis menuju kondisi Sejahtera paripurna siswa masa kini dan pembekalan anak untuk menjadi Atlet elite dan SDM bermutu bagi masa depan.
2. Reorientasi : pikir ulang arah pembinaan Penjas-Or bagi Siswa SD?
Penjas-Or sebagai program kurikuler perlu ditinjau kembali:
– Relevansinya dengan kebutuhan siswa / santri
– Manfaat yang diharapkan
– Kondisi nyata persekolahan :
i. Jatah waktu / jam pelajaran per minggu
ii. Sarana – prasarana yang tersedia.
3. Reaktualisasi : pikir ulang apakah Penjas-Or di SD sudah sesuai kebutuhan nyata?
Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren perlu menekankan kembali (reaktualisasi) kepada konsep dasar Olahraga untuk tujuan Pendidikan dan Kesehatan untuk masa kini dan Pendidikan dan Pengayaan kemampuan koordinasi gerak untuk pembekalan menjadi Atlit elite dan SDM bermutu di masa depan. Jatah waktu pertemuan 3 x 45 menit/minggu, dapat disajikan untuk 3 x pertemuan/minggu @ 45 menit.
4. Revitalisasi : pikir ulang bagaimana cara melaksanakan dan menggalakkan pelaksanaan Penjas-Or di SD untuk mencapai tujuan masa kini dan masa depan?
Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren harus bersifat massaal dan disajikan dengan iklim yang menggembirakan siswa, sehingga semua siswa merasa butuh berolahraga dan selalu ingin berpartisipasi secara aktif, karena Penjas-Or sebagai bagian dari paket kurikuler tidak membolehkan adanya siswa yang hanya menjadi Penonton, kecuali yang sakit.
5. Kualitas Petugas
Keberhasilan misi di tingkat lapangan sangat ditentukan oleh kualitas Petugas (dalam hal ini guru Penjas-Or) serta pemahamannya mengenai makna pembelajaran Penjas-Or di Sekolah Dasar. Ketulusan dan kesungguhan dalam pengabdiannya, serta kreativitas dan inovasinya dalam pembelajaran Penjas-Or pada anak (usia) SD akan sangat menentukan keberhasilan misi yang diembannya.
6. Kebutuhan
Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga di (usia) Sekolah Dasar dan di Pondok Pesantren harus dirasakan sebagai kebutuhan dan kenikmatan oleh siswa/santri, sehingga mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran Penjas-Or ditiadakan.
7. Olahraga prestasi
Olahraga kecabangan yang bersifat prestatif perlu pula dikembangkan namun sebagai materi ekstra kurikuler, sebagai pilihan untuk menyalurkan bakat dan minat siswa/santri terhadap sesuatu cabang Olahraga.

Apapun Garis Besar Program Pengajaran(GBPP)nya, pelaksanaannya di lapangan selalu dapat disesuaikan dengan semua hasil pikir-ulang tersebut diatas. Memang diperlukan creativitas dan innovasi pada pelaksanaannya di lapangan!

Kesimpulan
Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga di Sekolah Dasar (intra kurikuler) harus berlandaskan pada olahraga massaal/ olahraga kesehatan dengan titik berat pada pelatihan jasmani untuk meningkatkan derajat sehat dinamis dan kemampuan koordinasi motorik yang lebih baik, agar para siswa selama masa belajar memiliki kesehatan, Kebugaran Jasmani dan kualitas hidup yang memenuhi kebutuhan masa kini dan dapat diharapkan menjadi atlet elite dan sumber daya manusia yang bermutu di masa depan.

Saran
1. Pembinaan anak usia Sekolah Dasar melalui Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga untuk masa kini harus dicermati sebagai awal dari pembinaan secara berkelanjutan untuk mempersiapkan anak menjadi Sumber Daya Manusia bermutu dan Atlet elite bagi masa depan.
2. Pembelajaran Olahraga pada anak usia Sekolah Dasar hendaknya bertitik berat pada pengayaan perbendaharaan (“Memori”) kemampuan koordinasi sebanyak mungkin ragam gerak dasar, dengan intensitas gerak yang adekuat, agar juga dapat diperoleh derajat sehat dinamis/ Kebugaran Jasmani yang mampu mendukung segala tuntutan tugasnya sebagai siswa.
3. Anak yang berolahraga dan terus berolahraga secara teratur adalah Atlet elite untuk masa depan! Jangan pernah kecewakan anak yang berolahraga!!!

Kepustakaan
1 Cooper, K.H. (1994) : Antioxidant Revolution, Thomas Nelson Publishers, Nashville-Atlanta-London-Vancouver.
2 Giriwijoyo,Y.S.S. (1992) : Ilmu Faal Olahraga, Buku perkuliahan Mahasiswa FPOK-IKIP Bandung.
3 Giriwijoyo,H.Y.S.S. dan H.Muchtamadji M.Ali (1997) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, IKIP Bandung.
4. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2000) : Olahraga Kesehatan, Bahan perkuliahan Mahasiswa FPOK-UPI.
5. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2001) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga, kontribusinya terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik, Ma’had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat.
6. Watson,A.S. (1992): Children in Sports, dalam Textbook of Science and Medicine in Sport Edited by J.Bloomfield, P.A.Fricker and K.D.Fitch; Blackwell Scientific Publications.
7. Giriwijoyo,H.Y.S.S. dan Komariyah,L (2007): Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia, 2007.
8. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2008) : Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah Dasar, Makalah disajikan pada Penataran Guru Pen-Jas, diselenggarakan oleh PERWOSI Jawa Barat, Maret 2008 di gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia.

Doc. Penjas-Or SD Tr. Bandung, 10 Maret 2008.

November 7, 2008 at 8:35 pm 8 komentar

Kekuatan Otot Dan Otak: Modal Persaingan Dalam Era Globalisasi

H.Y.S.Santosa Giriwijoyo

Persaingan memang terjadi dalam kehidupan manusia di muka bumi ini, dan sesuai dengan Hukum Alam yang tetap lurus pada jalurnya, maka siapa yang kuat dialah yang menang. Jadi jangan biarkan kita menjadi orang yang lemah, yang akan cenderung menjadi pecundang dan orang yang merugi! Dalam era globalisasi, jangan sampai kita tergombalisasi! Namun persaingan harus beradab, beraturan dan terkendali, sebab bila terjadi persaingan bebas tanpa aturan dan kendali, maka persaingan akan cenderung berubah menjadi penindasan si Lemah oleh si Kuat, si Miskin oleh si Kaya dan seterusnya, yang akan berakibat berubahnya kebudayaan manusia menjadi kebiadaban. Beruntunglah kita mempunyai “Ketuhanan yang maha Esa” dan “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, sehingga tidak terjadi persaingan bebas. Terlebih adanya Agama dalam kehidupan universal manusia pada umumnya menjadi landasan yang lebih luhur dari kebudayaan, dan Agama Islam pada khususnya telah dengan tegas meletakkan dasar perlindungan bagi si Lemah.

Surat Al-Baqarah ayat 267 mengemukakan: “Hai orang-orang beriman! Nafkahkanlah sebagian hasil usahamu yang baik…….jangan sengaja kamu berikan yang tidak baik, yang kamu sendiri tidak mau menerimanya!”. Surat Adz-Dzaariyat ayat 19 menyebutkan: “Dan dalam tumpukan hartanya terdapat bagian dari orang yang minta-minta dan orang miskin yang tak mempunyai apa-apa”. Memang “Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya dan Dia pula yang membatasinya” (Surat Al-‘Ankabut ayat 62).

Namun demikian, batas antara siapa yang dilapangkan dan siapa yang dibatasi rezekinya tidaklah jelas, oleh karena di dunia ini masalah batas memang tidak pernah jelas! Contohnya: Tidak mudah untuk menentukan batas utara dan selatan, serta di mana gerangan batas antara timur dan barat? Oleh karena itu, masalah batas ini, khususnya batas antara yang diwajibkan, yang diizinkan dan yang dilarang Allah harus selalu dicari, dicermati, dipelajari dan dikaji secara teliti, agar jangan sampai kita tersesat ke dalam daerah yang dilarang Allah. Hal ini berarti bahwa, baik mereka yang dilapangkan maupun mereka yang dibatasi rezekinya, sesungguhnya mereka sedang diuji bagaimana tingkat ketaqwaan dan ketaatannya kepada Allah. Mereka yang lebih tinggi tingkat ketaqwaan dan ketaatannya, akan menempatkan dirinya sebagai orang yang dilapangkan rezekinya dan akan menafkahkan sebagian dari hasil usahanya yang baik; sebaliknya orang yang kurang tinggi tingkat ketaqwaan dan ketaatannya, akan menempatkan dirinya sebagai orang yang dibatasi rezekinya dan dengan sendirinya tidak akan menafkahkan sebagian dari hasil usahanya, bahkan akan menunggu diberi nafkah oleh orang lain.

Memang Allah yang melapangkan dan membatasi rezeki bagi siapa yang dikehendaki, akan tetapi lapang dan sempitnya rezeki seseorang juga berkaitan dengan kemampuan menggunakan otak dan ototnya, artinya sangat tergantung kepada kemauan dan kesungguhannya untuk berpikir dan berusaha! Berpikir tanpa berusaha (mewujudkan pemikirannya), tidak akan menghasilkan sesuatu, sebaliknya berusaha tanpa berpikir, tidak akan menghasilkan sesuatu yang berharga! Dalam perwujudannya, hasil usahanya akan tergantung kepada kemauan dan kemampuannya untuk berpikir dan kecerdikannya memanfaatkan kekuatan ototnya, serta ditentukan pula oleh daya tahannya. Orang yang mempunyai daya tahan yang tinggi adalah orang yang tangguh, artinya ialah orang itu mempunyai derajat sehat dinamis yang tinggi, yaitu orang itu tidak mudah lelah; dan orang-orang yang tidak mudah lelah mempunyai kemampuan bekerja yang lebih besar. Daya tahan, khususnya ketahanan dalam aspek jasmaniah (fisik), berhubungan dengan kemampuannya mengambil O2, dan O2 terdapat bebas di udara! Siapapun bebas mengisap O2 dari udara secara gratis sebanyak kemauan dan kemampuannya. Ingat, jangan sampai Anda mengisap O2 di Rumah Sakit, karena kalau mengisap O2 di Rumah Sakit, Anda harus bayar!

Sesungguhnya Allah maha adil terhadap hamba-hambanya! Akan tetapi kemauan untuk mengambil O2 yang banyak, belum tentu disertai dengan kemampuan yang sesuai untuk itu! Orang yang mampu mengambil O2 dari udara dalam jumlah yang lebih banyak, akan mempunyai daya tahan yang lebih besar! Lalu siapa yang menentukan besar kemampuan untuk mengambil O2 dari udara ini? Tidak ada orang lain yang menentukannya kecuali diri kita sendiri! Bagaimana kita dapat mempertinggi kemampuan mengambil O2 ini? Dengan melakukan Olahraga Kesehatan Sasaran III, yaitu Olahraga aerobik, yang merupakan Olahraga yang paling mudah dan paling murah, karena dapat dilakukan tanpa peralatan apapun. Olahraga Kesehatan aerobik bahkan akan lebih baik bila dilakukan tanpa mengenakan sepatu, karena sol sepatu yang dikaruniakan Allah kepada kita yaitu telapak kaki kita justru akan menjadi lebih tebal bila kita melakukan Olahraga aerobik (berjalan atau jogging) tanpa bersepatu! Hal yang sebaliknya akan terjadi pada sepatu yang kita beli dengan harga yang mahal sekalipun, yaitu telapak sepatu kita secara pasti akan terkikis! Inilah beda antara alat buatan manusia dengan alat buatan Tuhan, alat buatan manusia akan cepat rusak bila dipergunakan, sebaliknya alat buatan Tuhan justru lebih cepat rusak bila tidak dipergunakan.

Jadi, orang yang melakukan Olahraga Kesehatan sesungguhnya adalah orang yang sedang mensyukuri nikmat sehat karunia Allah, ia sedang memelihara dan/atau meningkatkan derajat sehat dinamisnya, dan dengan demikian ia menjadi orang yang tidak mudah lelah dan karena itu mempunyai kemampuan kerja yang lebih besar! Sebaliknya orang yang tidak memelihara derajat sehat dinamisnya, sesungguhnya ia sedang menganiaya dirinya sendiri karena ia sedang membuat dirinya termasuk golongan orang-orang yang lemah dan mudah lelah!

Wahai anak-anak muda Indonesia, persiapkan dirimu dan berjuanglah untuk menghadapi masa depanmu, cermati era globalisasi yang akan menghadirkan persaingan dalam kehidupan yang semakin berat, semakin ketat dan semakin keras; tekunlah berusaha dan khusyu’ berdoa, jangan biarkan dirimu dalam keadaan lemah, agar dapat memenangkan persaingan secara beradab dan terhindar dari kezhaliman dalam persaingan! Dalam era globalisasi, jangan sampai kita tergombalisasi! Ingat : Hukum alam tetap lurus pada jalurnya!

Desember 31, 2007 at 12:08 pm 5 komentar

HUKUM ALAM TETAP LURUS PADA JALURNYA

H.Y.S.Santosa Giriwijoyo

Hukum alam adalah hukum Allah! Betapapun tingginya Ilmu yang dapat dikembangkan manusia, tidak mungkin dapat mengubah hukum alam! Apa yang dapat dilakukan manusia hanyalah mencermati dan mencoba memahami hukum-hukum alam, dan selanjutnya hanya dengan izin Alllah maka manusia dapat memanfaatkan hukum alam untuk kenikmatan kehidupannya. Contoh: Semua benda jatuh ke bawah! Tetapi cara jatuh daun, berbeda dengan cara jatuh buah. Tiupan angin berpengaruh besar terhadap jatuhnya daun, tetapi hampir tidak berpengaruh terhadap jatuhnya buah. Burung yang bentuknya seperti buah, dikala terbang mengubah dirinya menjadi seperti daun! Demikanlah dengan menyesuaikan segala sesuatunya terhadap hukum alam, maka manusia dengan izin Allah mampu membuat pesawat terbang untuk kemudahan dan kenikmatan kehidupannya! Mengapa selalu saya sebutkan izin Allah? Karena memang demikianlah adanya! Contoh yang sangat jelas dan mudah difahami adalah perihal bernafas! Bernafas yang begitu mudah dan dapat kita lakukan sehari-hari tanpa kita pikirkan, bahkan dapat kita lakukan dalam keadaan tidak sadar seperti sewaktu kita tidur, semata-mata dapat kita lakukan hanya karena ada izinNya! Kalau izin itu dicabut? Anda tahu sendiri apa jawabannya!

Satu hukum alam yang lain adalah: Kekuatan yang lebih besar akan mengalahkan kekuatan yang lebih kecil! Pada manusia kekuatan bersumber pada otot dan otak! Kekuatan otot menghasilkan kemampuan berolah-gerak, sedangkan kekuatan otak menghasilkan kemampuan berolah-cipta! Antara otak dan otot memang terdapat hubungan yang sangat erat. Pada adu tanding ketrampilan berolah-gerak, misalnya pada adu tanding bermain bulutangkis atau tenis, maka bila kemampuan dasar, ketrampilan teknik dan kondisi-kondisi pendukung lainnya sama, kemenangan akan ditentukan oleh siapa yang lebih mampu menggunakan otaknya; di samping tentu saja juga karena izinNya! Hal terakhir harus selalu kita ingat, agar kita dijauhkan dari sifat takabur! Orang takabur akan mengatakan bahwa segala sesuatu yang menjadi keberhasilan atau perolehannya, semata-mata karena kemampuan dirinya, bukan karena ada izinNya! Tetapi cobalah renungkan, untuk bernafas saja yang begitu mudah harus ada izinNya, konon pula untuk memenangkan sesuatu pertandingan ataupun keberhasilan-keberhadilan lainnya! Akan tetapi sebaliknya, orang yang hanya menunggu izinNya tanpa berusaha atau berjuang untuk mengatasi tantangan-tantangan yang harus dihadapi demi pencapaian tujuan, adalah contoh dari orang-orang yang tidak mampu menggunakan otaknya untuk menggerakkan ototnya; tidak mampu membangkitkan kemauan untuk berjuang dan berusaha! Sedangkan dengan berjuang dan berusaha akan diperoleh peningkatan kualitas dan kuantitas izinNya! Artinya, akan diperoleh hasil dengan mutu yang lebih baik, dalam jumlah yang lebih banyak! Bagaimana pasalnya? Pasalnya ialah bahwa sesungguhnya orang yang sedang berjuang dan berusaha adalah sedang berdoa dalam perbuatan! Makin sungguh-sungguh berjuang dan berusahanya, berarti makin khusyu’ berdoa dalam perbuatannya, dan Allah akan mengabulkan orang-orang yang khusyu’ dalam berdoanya!

Demikanlah maka dengan kekuatannya masing-masing, manusia berjuang dan saling bersaing untuk mempertahankan kehidupan pada tingkat terbaiknya! Makin tinggi kekuatan (otot dan otak) yang dimiliknya, makin besar kemungkinan mendapatkan tingkat kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu pembinaan kekuatan diri adalah sangat penting, karena hal itu merupakan perjuangan untuk membuat diri kita masing-masing menjadi lebih mampu bersaing! “Dan barang siapa berjuang, maka ia berjuang untuk dirinya sendiri”, demikian firman Allah dalam surat Al-‘Ankabut ayat 6. Sebaliknya barang siapa membiarkan dirinya dalam keadaan lemah (otak maupun otot), maka sesungguhnya ia sedang menganiaya dirinya sendiri, karena “Sesungguhnya bukan Allah menganiaya manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri”, demikian surat Yunus ayat 44.

Wahai anak-anak muda Indonesia, persiapkan dirimu dan berjuanglah untuk menghadapi masa depanmu, cermati era globalisasi yang akan menghadirkan persaingan dalam kehidupan yang semakin berat, semakin ketat dan semakin keras; tekunlah berusaha dan khusyu’ berdoa, jangan biarkan dirimu dalam keadaan lemah! Ingat : Hukum alam tetap lurus pada jalurnya!

Desember 22, 2007 at 4:14 pm 1 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Pos-pos Terakhir

Top Clicks

  • Tidak ada

Blog Stats

  • 176,412 hits

Halaman


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.