Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Lembaga Pendidikan (bag 2)

Oktober 19, 2007 at 8:46 pm 32 komentar

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian pertama

Mengapa perlu Olahraga.

Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu : Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.

Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Seperti halnya makan, Olahraga merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik; artinya Olahraga sebagai alat untuk memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang aktif mengikuti kegiatan Penjas-Or dari pada siswa-siswa yang tidak aktif mengikuti Penjas-Or (Renstrom & Roux 1988, dalam A.S.Watson : Children in Sport dalam Bloomfield,J, Fricker P.A. and Fitch,K.D., 1992).

Olahraga Kesehatan meningkatkan derajat Sehat Dinamis (Sehat dalam gerak), pasti juga Sehat Statis (Sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya. Gemar berolahraga : mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat ! Malas berolah-raga : mengundang penyakit.
Tidak berolahraga : menelantarkan diri !

Kesibukan dalam kehidupan “Duniawi” sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mengundang berbagai penyakit non-infeksi di antaranya yang terpenting adalah penyakit kardio-vaskular (penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke). Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia pertengahan, tua dan lanjut, khususnya yang tidak melakukan Olahraga. Olahraga (Kesehatan): Banyak gerak dan bebas stress, mencegah penyakit dan menyehatkan ! Olahraga adalah kebutuhan hidup bagi orang yang mau berpikir. Bukan Allah menganiaya manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri ! Pemahaman dan perilaku ini sudah harus ditanamkan sejak usia dini, yaitu semenjak mereka masih di tingkat Pendidikan Dasar, baik di Sekolah Umum maupun di Pondok Pesantren! Cara penyajian Penjas-Or di Sekolah maupun di Pondok Pesantren harus dapat menjadikan siswa/santri menjadi butuh akan Penjas-Or khususnya demi kesehatannya serta dukungan bagi kemampuan belajarnya, sehingga siswa/santri akan selalu menyambut gembira setiap datang mata pelajaran Penjas-Or. Oleh karena sudah menjadi kebutuhan, maka mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran Penjas-Or ditiadakan seperti yang terjadi selama ini bila mereka akan menghadapi ujian akhir. Untuk ini diperlukan guru-guru Penjas-Or yang faham benar akan makna Penjas-Or di Sekolah maupun di Pondok Pesantren.

Konsep Olahraga Kesehatan adalah: Padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), adekuat, massaal, mudah, murah, meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman) ! Massaal : Ajang silaturahim, ajang pencerahan stress, ajang komunikasi sosial ! Jadi Olahraga Kesehatan membuat manusia menjadi sehat Jasmani, Rohani dan Sosial yaitu Sehat seutuhnya sesuai konsep Sehat WHO ! Adekuat artinya cukup, yaitu cukup dalam waktu (10-30 menit tanpa henti) dan cukup dalam intensitasnya. Menurut Cooper (1994), intensitas Olahraga Kesehatan yang cukup yaitu apabila denyut nadi latihan mencapai 65-80% DNM (Denyut nadi maximal: 220-umur dalam tahun). Masalah intensitas yang adekuat ini harus menjadi perhatian bila Olahraga Kesehatan telah mencapai Sasaran–3 (lihat Sasaran Olahraga Kesehatan).

Sehat Dinamis hanya dapat diperoleh bila ada kemauan mendinamiskan diri sendiri khususnya melalui kegiatan Olahraga (Kesehatan). Hukumnya adalah : Siapa yang makan, dialah yang kenyang ! Siapa yang mengolah-raganya, dialah yang sehat ! Tidak diolah berarti siap dibungkus ! Klub Olahraga Kesehatan adalah Lembaga Pelayanan Kesehatan (Dinamis) di lapangan. Dalam kaitan dengan ini maka setiap lembaga Pendidikan Umum maupun Pondok-pondok Pesantren harus juga berfungsi sebagai Lembaga Pelayanan Kesehatan lapangan, dalam rangka program pokok yaitu

Contoh Olahraga Kesehatan berbentuk senam yang dapat mencapai Sasaran-3 (Aerobiks) ialah Senam Pagi Indonesia seri D (SPI-D). Satu seri SPI-D memerlukan waktu 1’45”, sehingga untuk memenuhi kriteria waktu yang adekuat maka SPI-D harus dilakukan minimal 6x berturut-turut tanpa henti, yang akan mencapai waktu 10.5 menit. Menurut penelitian, bila SPI-D dilakukan dengan sungguh-sungguh maka intensitasnya dapat mencapai tingkat adekuat sesuai kriteria Cooper. SPI-D ini macam gerak dan tata-urutannya sudah berpola tetap sehingga lama-kelamaan Peserta dapat menjadi hafal akan macam gerakan dan tata-urutannya. Bila Peserta sudah hafal, maka rangsangan terhadap proses berpikir menjadi berkurang. Oleh karena itu senam aerobik pada umumnya yang tidak berpola tetap, adalah lebih baik dalam hal rangsangannya terhadap proses berpikir.

Ciri Olahraga Kesehatan.

Pesantai adalah orang yang tidak melakukan olahraga sehingga cenderung kekurangan gerak. Sebaliknya Pelaku olahraga berat melakukan olahraga lebih dari keperluannya untuk pemeliharaan kesehatan. Maka Pelaku Olahraga Kesehatan adalah orang yang tidak kekurangan gerak tetapi bukan pula Pelaku olahraga berat. Olahraga yang dianjurkan untuk keperluan kesehatan adalah aktivitas gerak raga dengan intensitas yang setingkat di atas intensitas gerak raga yang biasa dilakukan untuk keperluan pelaksanaan tugas kehidupan sehari-hari (Blair, 1989 dalam Cooper, 1994). Dalam Olahraga Kesehatan, setiap Peserta harus berusaha mengikutinya sebaik mungkin gerak/ instruksi Pelatih, namun tentu harus sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Ciri Olahraga Kesehatan secara teknis-fisiologis adalah :
– gerakannya mudah, sehingga dapat diikuti oleh orang kebanyakan dan seluruh siswa/santri pada umumnya (bersifat massaal), sehingga dapat memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar, gerak yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan hidup sehari-hari.
– intensitasnya sub-maksimal dan homogen, bukan gerakan-gerakan maksimal atau gerakan eksplosif maksimal (faktor keamanan).
– terdiri dari satuan-satuan gerak yang dapat (secara sengaja) dibuat untuk menjangkau seluruh sendi dan otot, serta dapat dirangkai untuk menjadi gerakan yang kontinu (tanpa henti) – faktor penting untuk dapat mengatur dosis dan intensitas olahraga kesehatan.
– bebas stress (non kompetitif)
– diselenggarakan 3-5x/minggu (minimal 2x/minggu).
– dapat mencapai intensitas antara 60-80% denyut nadi maksimal (DNM) sesuai umur. DNM sesuai umur = 220 – umur dalam tahun. Sebaiknya tiap Peserta mengetahui cara menetapkan dan menghitung denyut nadi latihan masing-masing.

Perlu pula dikemukakan bahwa sampai usia sekitar 14 tahun (usia pubertas) tidak perlu ada pemisahan siswa atas dasar jenis kelamin (Watson,1992), karena baru akan berdampak nyata di atas usia tersebut.

Sasaran Olahraga Kesehatan.

- Sasaran-1: Memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak yang masih ada, termasuk memelihara dan meningkatkan fleksibitas dan kemampuan koordinasi.
– Sasaran-2 : Meningkatkan kemampuan otot untuk meningkatkan kemampuan geraknya lebih lanjut. Latihan dilakukan dengan menerapkan prinsip Pliometrik!.
– Sasaran-3 : Memelihara kemampuan aerobik yang telah memadai atau me-ningkatkannya untuk mencapai sasaran minimal katagori “sedang”.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa Olahraga Kesehatan adalah gerak olahraga dengan takaran sedang, bukan olahraga berat ! Jadi takarannya ibarat makan : berhentilah makan menjelang kenyang; jangan tidak makan oleh karena bila tidak makan dapat menjadi sakit, sebaliknya jangan pula kelebihan makan, karena kelebihan makan akan mengundang penyakit. Artinya berolahragalah secukupnya (adekuat), jangan tidak berolahraga karena kalau tidak berolahraga mudah menjadi sakit, sebaliknya kalau melakukan olahraga secara berlebihan dapat menyebabkan sakit !

Keterkaitan Kesehatan, Pendidikan Jasmani dan Olahraga.
Untuk lebih memudahkan bahasannya perlu lebih dahulu dikutip kembali hal-hal yang tersebut di bawah ini :

* Sehat dan Kesehatan.
– Sehat merupakan dasar bagi segala kemampuan jasmani, rohani maupun sosial.
– Memelihara dan meningkatkan kesehatan : cara yang terpenting, termurah dan fisiologis adalah melalui Olahraga.
– Acuan Sehat adalah Sehat Paripurna dari Organisasi Kesehatan Dunia.
* Pendidikan Jasmani dan Olahraga :
– Pendidikan Jasmani adalah pendidikan dengan menggunakan media kegiatan Jasmani.
– Olahraga adalah pelatihan Jasmani
– Pendidikan Jasmani dan Olahraga adalah Pendidikan dan Pelatihan Jasmani, yang dalam lingkup persekolahan/pesantren berarti Pelatihan Jasmani, Rohani dan Sosial menuju kondisi yang lebih baik yaitu sejahtera paripurna (peningkatan mutu sumber daya manusia).

* Olahraga – Gerak :
– Gerak adalah ciri kehidupan.
– Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup.
– Meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup.
– Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk meningkatkan kemampuan gerak yang berarti meningkatkan kualitas hidup.
– Olahraga merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial menuju sejahtera paripurna.
– Hanya orang yang mau bergerak-berolahraga yang akan mendapatkan manfaat dari Olahraga.

* Olahraga Kesehatan :
– Intensitasnya sedang, setingkat di atas intensitas aktivitas fisik dalam menjalani kehidupan sehari-hari
– Meningkatkan derajat kesehatan dinamis – sehat dengan kemampuan gerak yang dapat memenuhi kebutuhan gerak kehidupan sehari-hari.
– Bersifat padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 30 menit tanpa henti), mudah, murah, meriah massaal, fisiologis (manfaat & aman).
– Massaal : – Ajang silaturahim  Sejahtera Rohani dan Sosial
– Ajang pencerahan stress  Sejahtera Rohani
– Ajang komunikasi sosial  Sejahtera Sosial

Ketiga hal diatas merupakan pendukung untuk menuju Sehatnya WHO yaitu Sejahtera Paripurna.
– Sehat dinamis adalah landasan bagi pelatihan Olahraga Prestasi.

* Kondisi Pendidikan Jasmani dan Olahraga saat ini.
– Waktu yang tersedia = 2 x 45 menit/minggu
– Sarana – prasarana sangat terbatas
– Kurikulum Penjas-Or lebih berorientasi kepada Olahraga Kecabangan :
1. Cenderung individual dan cenderung mengacu pencapaian prestasi
2. Olahraga prestasi mahal dalam hal :
o Sarana – prasarana
o Waktu, perlu masa pelatihan yang panjang
o Tenaga dan biaya.

Kesimpulan

Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan harus ditekankan pada olahraga kesehatan dan latihan jasmani untuk meningkatkan derajat sehat dinamis dan kemampuan motorik dan koordinasi yang lebih baik, agar para siswa selama masa belajar memiliki kualitas hidup yang lebih baik, serta dapat diharapkan menjadi atlet berprestasi dan sumber daya manusia yang bermutu di masa depan.

Saran

1. Reorientasi
Penjas-Or sebagai program kurikuler perlu ditinjau kembali kaitannya dengan :
– Relevansinya dengan kebutuhan siswa / santri
– Manfaat yang diharapkan
– Kondisi nyata persekolahan :
i. Jatah waktu / jam pelajaran per minggu
ii. Sarana – prasarana yang tersedia.

2. Reposisi
Penjas-Or perlu dikembalikan pada posisi dasar fungsinya yaitu :
– Penggunaan Olahraga/Kegiatan Jasmani sebagai media Pendidikan
– Penggunaan Olahraga sebagai alat pelatihan untuk memelihara dan meningkatkan derajat sehat dinamis menuju kondisi Sejahtera paripurna sesuai konsep Sehat WHO.

3. Revitalisasi dan Reaktualisasi
Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren dengan orientasi dan posisinya yang baru perlu digalakkan kembali (revitalisasi) dengan menekankan konsep Olahraga Kesehatan (reaktualisasi) sebagai pokok bahasan dan penyajiannya. Oleh karena durasi pelaksanaan Olahraga Kesehatan cukup 10-30 menit, maka jatah pertemuan 2 x 45 menit/minggu, dapat disajikan sebagai materi untuk 2 x pertemuan/minggu @ 30 menit, sehingga memenuhi persyaratan minimal Olahraga Kesehatan.

4. Kualitas Petugas
Keberhasilan misi di tingkat lapangan sangat ditentukan oleh kualitas Petugas serta pemahamannya mengenai makna Penjas-Or bagi Lembaga Pendidikan serta ketulusan dan kesungguhan dalam pengabdiannya.

5. Kebutuhan
Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren harus dirasakan sebagai kebutuhan oleh siswa/santri, sehingga mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran Penjas-Or ditiadakan.

6. Olahraga prestasi
Olahraga kecabangan yang bersifat prestatif perlu pula dikembangkan namun sebaiknya ditempatkan sebagai materi ekstra kurikuler, sebagai tempat penyaluran bakat dan minat siswa/santri.

Kepustakaan

1. Cooper, K.H. (1994) : Antioxidant Revolution, Thomas Nelson Publishers, Nashville-Atlanta-London-Vancouver.
2. Giriwijoyo,Y.S.S. (1992) : Ilmu Faal Olahraga, Buku perkuliahan Mahasiswa FPOK-IKIP Bandung.
3. Giriwijoyo,H.Y.S.S. dan H.Muchtamadji M.Ali (1997) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, IKIP Bandung.
4. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2000) : Olahraga Kesehatan, Bahan perkuliahan Mahasiswa FPOK-UPI.
5. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2001) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga, kontribusinya terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik, Ma’had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat.
6. Watson,A.S. (1992): Children in Sports, dalam Textbook of Science and Medicine in Sport Edited by J.Bloomfield, P.A.Fricker and K.D.Fitch; Blackwell Scientific Publications.

catatan: post ini adalah bagian kedua dari dua tulisan, lihat bagian pertama

Entry filed under: olahraga, pendidikan. Tags: , .

Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Lembaga Pendidikan (bag 1) Pembinaan Kesehatan Melalui Olahraga Kesehatan Seni Pernafasan SATRIA NUSANTARA (bag1)

32 Komentar Add your own

  • [...] Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Lembaga Pendidikan (bag 2) « Bengkel Pak Santosa Pingback on Okt 19th, 2007 at 8:47 [...]

    Balas
  • 2. caknun  |  Oktober 21, 2007 pukul 12:30 pm

    Pak Santoso, saya salut tulisan ini, tapi mungkin agak kepanjangan sehingga yang tidak biasa membaca agak malas membacanya. Dan di negeri ini, jumlah pemalas lebih banyak. Banyak orang tahu tentang manfaat olahraga untuk kehidupan, tapi tak banyak yang melakukannya. Banyak yang tahu kalau kurang gerak itu akan mudah kena penyakit gawat, tapi mereka masih malas bergerak. Sudah tahu kalau merokok itu membuat kesehatan tubuh cepat merosot, eh penjualan rokok tiap tahun terus meningkat. Padahal ”kemalasan2” itu harganya sangat mahal. Coba kalau mereka sedikit mengesampingkan kemalasan itu, tidak perlu biaya besar untuk ke dokter, sumah sakit atau beli obat. Joging, jalan pagi, tidak perlu biaya besar, tapi manfaatnya sangat besar. Ayo pak, kita promosikan supaya orang-orang lebih giat berolahraga agar kualitas hidup lebih baik dan tidak boros

    Balas
  • 3. antoix  |  Oktober 24, 2007 pukul 1:07 am

    Terima Kasih Cak Nun,

    Komentarnya mengena dan sangat menyemangati. Semoga masih diberi kesempatan menulis terus.

    Terima Kasih,
    an. Bp. Santosa

    Balas
  • 4. HOTLIDER H SIMAMORA, S.Pd  |  November 12, 2007 pukul 8:48 pm

    kepada yth
    pimpinan Lembaga Penjas-Olahraga

    dengan ini saya datang kedapan bapak untuk sudi kiranya memberikan lowongan kerja kepada sarjana-sarjana olahraga. seperti halnya dengan saya.
    saya tamatan Sarjana Pendidikan Jasmani Sekolah, dan ingin mengajarkan pendidikan jasmani di sekolah-sekolah yang membutuhkan Guru Olahraga. terimakasih atas perhatiannya.

    dari
    hotlider H Simamora
    di
    jl. sukaria no12c pancing-medan.sumatera utara.20222

    Balas
  • 5. saryono  |  November 21, 2007 pukul 11:51 am

    Salam penjas dan olahraga,… tulisan bapak bagus…

    sudi tulisan ini ditampilakan di Milis penjas Indonesia di : penjas@yahoogroups.com ,.. lumayan anggotanya rame kok, ada pemerhati penjas dan olahraga di PT, Masyrakat, Guru maupun mahasiswa penjas olahraga,.. Mari Bergabung Pak.. Trimakasih..

    Salam Penjas

    Balas
  • 6. Sri Widianingsih,S.Pd  |  Desember 4, 2007 pukul 8:12 pm

    Salam Olahraga
    Pak, Tulisan yang bapak muat sangat bagus, sedikit Insan Olahraga yang peduli secara detail memperhatikan manfaat kesehatan untuk masyarakat banyak seperti bapak. Saya sebagai murid bapak yang juga lulusan dari FPOK – UPI Bandung merasa bangga mempunyai Guru Besar seperti Bapak. Tapi alangkah lebih baiknya lagi kalau semua yang Bapak Pikirkan ini dapat sepemikiran juga dengan Beliau-Beliau yang berada di kampus kita tercinta FPOK UPI. Sehingga di kampus kita tercinta terdapat peraturan yang jelas yang dapat membersihkan dari asap rokok yang merupakan sebagai bibit penyakit. Wahai Saudara – saudara ku betapa indahnya hidup sehat. aplikasikanlah apa yang kita tau tentang kesehatan dalam kehidupan kita sehari – hari. SEMUA BERAWAL DARI DIRI KITA.Terima Kasih. JAYA TERUS FPOK UPI BANDUNG.

    Balas
  • 7. henny  |  Maret 8, 2008 pukul 11:29 pm

    salam olahraga,,,,

    adakah yang bisa membantu saya????????
    saya sedang mencari artikel mengenai respon/tanggapan terhadap guru penjas,,,,,

    artikel tsb saya pergunakan untk bahan skripsi saya,,,,,,,
    saya tunggu di alamat email saya miss_20sby@yahoo.com.
    terima kasih sebelumnya,,,,
    henny

    Balas
  • 8. nunik  |  April 16, 2008 pukul 5:26 pm

    Artikel di blog ini bagus-bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di Infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!

    http://www.infogue.com/

    http://www.infogue.com/pendidikan/pendidikan_jasmani_dan_olahraga_di_lembaga_pendidikan_bag_2_/

    Balas
  • 9. Nimrod  |  Mei 12, 2008 pukul 3:52 pm

    pelajaran yang membahas olahraga kesehatan sangat kurang di Internet lebih gampang mencari buku cerita porno, tanya kenapa?

    Balas
  • 10. giri verianti  |  Juli 21, 2008 pukul 12:43 pm

    Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah mau dibawa kemana anak-anak di sekolah ?? sementara para Guru Pendidikan jasmani masih memperlakukan anak didik sama dengan atlet. Sampai saat ini banyak sekali penataran/diklat yang di perlukan dan dirindukan oleh para Guru Penjas (” bukan Guru Olahraga” ) yang betul – betul mengarah pada KBM bukan kegiatan Melatih. Kita masih perlu banyak ilmu pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang betul – betul mengarah pada anak didik di sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK. dan tentunya masih membutuhkan bimbingan para pakar-pakar pendidikan dan juga buku – buku sumber yang dapat diaplikasikan di Indonesia. Adopsi yang sering kita pergunakan dalam acuan pembelajaran masih sangat jauh bila dibanding dengan Negara- negara lain. mengingat yang kita miliki di Indonesia ini dari semua aspek. dan yang terpenting hanya mencapai satu indikator tetapi sudah dapat mencawab kebutuhan anak didik di Sekolah sesuai karakteristik daerah. dan tentunya akan menjadi bekal anak di dunia nyata. bagaimana caranya anak dapat menghadapi dunia saat kini dan mempersiapkan anak pada masa yang akan datang….. tanggapi dooong ???????

    Balas
  • 11. giri verianti  |  Juli 21, 2008 pukul 1:12 pm

    Pak jarang sekali para pakar olahraga pendidikan mempunyai pikiran cemerlang seperti bapak. saat ini kami membutuhkan itu, masih banyak teman-teman dilapangan yang belum sependapat dengan apa yang kita harapkan. filsafat yang pernah bapak berikan pada kami saat kuliah sangat dalam apabila kita semua mau mencermati dengan seksama. terimakasih atas bekal yang telah bapak berikan pada saya. sehingga pada saat saya berhadapan dengan teman-teman dilapangan semakin dapat memperkuat apa arti pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang harus di berikan di sekolah. walaupun inovasi – inovasi ini tidak serta merta dapat diterima oleh teman-teman dilapangan. sehingga masih banyak pula perbedaan persepsi yang beragam. kami masih perlu bimbingan dari bapak. karena apa yang telah bapak berikan pada kami sama persis denga kronologis yang terjadi di lapangan. Mudah-mudahan bapak sekeluarga ada di dalam lindungan Nya, dan diberikan Kesehatan. Wassalam W Wb

    Balas
  • 12. azwar  |  Agustus 4, 2008 pukul 3:22 pm

    pak azwar kemana gk nampak2 saya da yang mau bertanya sedikit tentang ilmu editing.

    Balas
  • 13. ines  |  Februari 15, 2009 pukul 4:31 pm

    pa bisa tolongin saya g??bsa bntucriin ga perkembangan olahraga loncat galah??saya tunggu d email saya ya nezz_ajjah@yahoo.com ,trimakasih ya..

    Balas
  • 14. afrizal  |  Maret 2, 2009 pukul 1:21 am

    pak… apakah anda memiliki salinan atau copy-an file yang berhubungan dengan penjaskes di sma. jika anda memiliki tolong kalau boleh kirimkan melalui e-mail saya yang saya gunakan saat ini.thks.

    Balas
  • 15. Iwan Bagol  |  April 29, 2009 pukul 11:33 pm

    Saya sangat kangen banget dengan musik SPI (bukan SKJ) sebelum skj, mungkin senam pagi idonesia seri A,B,or C. Jika bpk tdk keberatan tolong info-nya untuk memperoleh musik k,video klip dan buku SPI-nya.
    Trims.

    Balas
  • 16. RM.PANJI  |  Mei 26, 2009 pukul 11:37 pm

    Tulisan yang bapak ungkapkan bagus dan menarik dan memang benar adanya ! saya lulusan SMOA/SGO Bogor tahun 1978/79 menjaddi guru hingga saat ini.sungguh merasakan kesulitan untuk menempatkan bidang studi OLAH RAGA PENJAS menjadi bidang studi yang dapat dipandang ! menjadi bagian penting dalam pembentukan manusia terdidik sebagai penerus/generasi bangsa. sehat JASMANI DAN ROHANI ! cobalah kita renungkan ! menurunnya moral para pejabat tinggi ! (KORUPSI ) Ini adalah suatu hasil dari peningkatan/pemacuan INTELEKTUAL Yang menganggap/mengenyempingkan/meremehkan PENDIDIKAN JASMANI DAN ROPHANI ( memanjakan jasmani dan rohani ) malas menggerakan jasmani,memanjakan rohani, dengan menggunakan intelektual,guna mengeruk uang apa saja dan tidak mengenal halal haram ! inikah kemajuan yang diharapkan dari hasil pendidikan INTELEKTUAL TEKNOLOGI ! ( SAINS,IPS DLL SELAIN PENJAS )!!! PENDIDIKAN DI INDONESIAKU……….!!!! MEMPRIHATINKAN!!

    Balas
  • 17. hum4n_error  |  Januari 25, 2010 pukul 3:49 pm

    jozzz,thx bro

    Balas
  • 18. irian  |  Februari 10, 2010 pukul 3:45 pm

    BRO.. terima kasih atas bacaannya…

    Balas
  • 19. umayah  |  Februari 16, 2010 pukul 4:27 pm

    pak caknun ini gimana sih, mengajak mempromosikan agar jangan males olahraga. tapi pak caknun sendiri males baca.

    Balas
  • 20. fajar zulkarnaen  |  Maret 4, 2010 pukul 9:11 pm

    pak saya mantan mahasiswa bapak di fpok jur. ikor tahun 2001 saya ingin memeprdalam tentang fisiologi olahraga untuk di praktekan di sekolah-sekolah yang saya ajar. terima kasih untuk ilmu yang telah bapak sampaikan

    Balas
  • 21. wahyu budi santoso  |  April 3, 2010 pukul 11:54 am

    salam olahraga

    Balas
  • 22. wahyu budi santoso  |  April 3, 2010 pukul 12:07 pm

    tulisannya sangat bagus pak.. dapat menginspirasi kita sebagai tenaga pendidik..

    Balas
  • 23. agung setiawan  |  April 18, 2010 pukul 9:38 pm

    terima kasih telah peduli

    Balas
  • 24. Nurul Iman Rajaby  |  Mei 25, 2010 pukul 9:11 am

    Assalamualaikum. Wr.Wb.
    Salam Olahraga.
    Pak saya mantan mahasiswa bapak di fpok jur. ikor tahun 2001 saya ingin penjelasan dari bapak tentang :
    1. Bagaimana cara memilih atlet sesuai dengan cabang olahraganya masing-masing.
    2. Dengan menggunakan alat tes apa saja pak.
    3. Punten pak, Saya minta blanko endurance tes.
    Pak, saya mohon maaf apabila pertanyaan ini kurang berkenan.
    Atas perhatian, Saya ucapkan terima kasih

    Balas
    • 25. Jaka Sembung  |  Juli 4, 2012 pukul 7:29 am

      Mantan mahasiswa itu artinya sudah sarjana olahraga. Pertanyaan dan permintaannya seperti bukan sarjana olahraga. Refferensi dan Literatur banyak Mas. Cari sendiri aja.

      Balas
  • 26. car finance rates  |  Juni 14, 2010 pukul 9:08 pm

    salam kenal…semangat…

    thanks…

    di tunggu kunjugan baliknya…

    Balas
  • 27. Pendidikan Jasmani Olahraga « Indrawahyu's Blog  |  Oktober 28, 2010 pukul 6:16 am

    [...] Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Lembaga Pendidikan [...]

    Balas
  • 28. eko Coach98  |  Februari 5, 2011 pukul 12:28 pm

    Salam kenal Pak Sentosa, izin copas dan posting!

    Balas
  • 29. ginagiriverianti  |  Februari 5, 2011 pukul 6:14 pm

    Tulisan ini bagus sekali untuk para guru penjas…..minimal paham akan makna dari tulisan ini

    Balas
  • 30. firman  |  Februari 20, 2011 pukul 7:29 pm

    bagus banget artikle nya dan coment2 bagus2 soale di negri kita kebanyakan pemalas dari pada yang giat.,.,.,.,

    Balas
  • 31. blackersz  |  Mei 15, 2011 pukul 10:36 pm

    makasih infonya pak….

    Balas
  • 32. muz  |  Juli 13, 2011 pukul 11:39 pm

    Tulisan ini menambah wawasan kami dalm menjalankan tugas sehari-hari sbagai guru penjasorkes.trima kasih pak, artikelnya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pos-pos Terakhir

Blog Stats

  • 175,805 hits

Halaman


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: