Sewaktu di Kolong Mobil Gelar Saya Montir

Oktober 11, 2007 at 2:56 pm 3 komentar

Agak risi juga saya membaca tulisan di H.U.Pikiran Rakyat Sabtu 25 Januari 1992 halaman 3 yang berjudul : “ Pensiunan Guru Besar harus mencopot gelar”. Terutama risi oleh judulnya !

Pada waktu itu, saya sendiri tidak termasuk orang yang bergelar seperti tersebut dalam pokok bahasan itu. Itulah yang menyebabkan saya merasa bebas karena memang tidak termasuk ke dalam kelompok yang dibicarakan itu. “ Lalu, kalau demikian halnya, apa yang menyebabkan Anda menjadi risi terhadap tulisan dengan pokok bahasan seperti tersebut di atas?” demikian tentu Pembaca akan bertanya-tanya. Nah yang menyebabkan saya menjadi risi terhadap tulisan tersebut ialah masalah “harus mencopot gelar” itulah! Lalu, apa pula masalahnya? Masalahnya ialah karena saya sudah biasa mencopoti gelar saya sendiri, tetapi sering juga gelar itu tidak mau copot karena ulah orang lain! “Kok mencopoti, memangnya apa sih gelar Anda dan ada berapa macam gelar?” begitu tentu Pembaca bertanya sambil sebagian tentu ada yang mencibir !

Nah rupanya “apa sih gelar” dan “ada berapa macam gelar” merupakan masalah yang dapat dibahas dengan cukup panjang lebar. Tetapi saya ingin membuka acara santai bukan acara Ilmiah, jadi tidak perlu saya membuat definisi. Jadi lebih baik saya teruskan saja acara santai ini!

Berbagai macam gelar telah saya miliki atau pernah saya miliki dan bahkan sampai sekarangpun masih beberapa gelar saya miliki. Sewaktu kecil yaitu sewaktu TK dan SD saya lebih banyak bergelar Cu (cucu), Nak atau Dik; kemudian semasa di SMP, SMA dan Mahasiswa, gelar saya bertambah dengan Mas atau Kang, tetapi gelar Cu, Nak dan Dik masih saja melelkat walaupun saya sudah mencopotnya, saya tidak suka lagi digelari Cu, Nak atau Dik! Kemudian selama awal-awal bekerja gelar saya bertambah lagi dengan Bapak atau Pak. Tetapi gelar Cu dan Nak itu tidak juga mau segera copot walaupun saya sudah mencopotnya sejak masih di SMP, terutama itu orang-orang yang sudah Kakek-kakek dan Nenek-nenek tetap saja memberi saya gelar Cu atau Nak ! Barangkali di mata beliau-beliau itu saya masih ingusan waktu itu! Tetapi apa boleh buat, adat Ketimuran mengatakan bahwa Kakek-kakek dan Nenek-nenek adalah mahluk yang harus kita hormati, jadi biarlah, saya terima saja gelar-gelar itu sehingga waktu itu yaitu waktu awal-awal saya bekerja saya mempunyai banyak gelar ialah : Cu, Nak, Dik, Mas dan Pak. Kalau saya memaksa hendak membuang gelar Cu atau Nak itu, maka hal itu terpaksa harus saya umumkan setiap kali saya bertemu dengan Kakek-kakek atau Nenek-nenek, tetapi keberhasilan usaha ini tidak dapat dijamin 100%, bahkan saya bisa mendapat gelar tambahan yaitu si Gila atau si Gelo atau si Besar Kepala! Yah dari pada mendapat gelar tambahan demikian, gelar Cu dan Nak rasanya masih lebih bagus, jadi akhirnya saya terima saja gelar-gelar itu beramai-ramai seorang diiri !

Sekarang ini, setelah berpuluh tahun saya bekerja, tiba-tiba saja ada yang menambah gelar lagi kepada saya ! Dan apa gelar itu ? Masya Allah, tiba-tiba saja saya telah diberi gelar Kakek! Saya yang masih merasa muda belia, lagi pula masih gagah perkasa, masa sudah diberi gelar Kakek?! Apakah saya ini emangnya sudah TOPP (Tua, Ompong, Pelupa dan Pikun) seperti diistilahkan oleh Bapak Presiden (Suharto, waktu itu)?! Ini semua gara-gara keponakan-keponakan saya yang pada beranak maka sayalah yang kena getahnya mendapat gelar Kakek! Tetapi sekali lagi apa boleh buat, keadaan sudah terlanjur. Seharusnya, sebelum keadaan menjadi terlanjur begini saya harus membuat edaran untuk semua keponakan-keponakan saya: “Hai Keponakan-keponakan saya, barang siapa di antara kamu menyebabkan saya mendapat gelar Kakek, akan saya tuntut di muka Pengadilan!” Tetapi untunglah hal itu tidak saya lakukan, karena ternyata memang tidak ada Peraturan Pemerintah ataupun undang-undang yang dapat memberikan sanksi kepada keponakan yang beranak, kecuali kalau ia berbuat kejahatan dengan anaknya atau terhadap anaknya! Seandainya maksud tersebut di atas jadi saya laksanakan, maka gelar Kakek tidak dapat saya hindari, sedangkan gelar tambahan bahkan saya peroleh; yaitu bukan cukup dengan gelar Kakek saja tetapi bahkan menjadi “Kakek Gelo (Gila)”!

Jadi demikianlah Pembaca yang budiman mengenai masalah gelar, walaupun di sini dicontohkan dari gelar informal atau non-formal atau apapun istilahnya yang lebih tepat, masalah gelar ini sering tidak mau copot atau bahkan bertambah karena ulah orang lain, sedangkan yang bersangkutan sendiri sudah ingin mencopotnya sejak pagi hari dan bahkan setiap pagi !

Jadi apa sesungguhnya gelar itu? Yah gelar itu tiada lain hanyalah “sebutan” seperti juga ditulis pada alinea 4 tulisan dalam HU Pikiran Rakyat Sabtu 25 Jan ’92 halaman 3 yang menyebutkan bahwasanya “Peraturan Pemerintah tentang Perguruan Tinggi pasal 102 hanya menentukan, sebutan guru besar atau Profesor …….”, jadi guru besar atau Profesor tidak disebut gelar, tetapi sebutan. Nah gelar atau sebutan ini ternyata sangat bermacam-macam; salah satu di antaranya ialah seperti yang telah diuraikan di atas yaitu gelar informal dalam lingkup kehidupan keluarga dan masyarakat, lalu salah dua di antaranya lagi ialah gelar formal yaitu gelar akademis dan gelar professional yang sesungguhnya juga tidak mungkin lepas dari lingkup kehidupan di masyarakat. Gelar professional misalnya Advokat atau Pengacara, gelar akademisnya SH (sarjana Hukum); gelar professional Akuntan, gelar akademisnya SE (sarjana Ekonomi); gelar professional Guru, gelar akademisnya Drs IKIP (sekarang SPd); gelar professional Dokter, gelar akademisnya Drs Medicus; gelar professional Tukang batu (tembok), gelar akademisnya BSd (Bachelor of Sekolah Dasar). Nah untuk yang terakhir ini tentu tentu akan ada yang menyangkal: “SD bukan akademi, sehingga tamatan SD tidak dapat disebut akademikus”! Nah jadi ada masalah baru yaitu apa yang disebut akademisi dan dimana letak batas antara akademikus dan bukan akademikus; saya tidak akan membahasnya lebih lanjut, karena rasanya tidak cukup pengetahuan saya untuk dapat membahasnya. Tetapi hal itu sudah cukup untuk mengungkapkan bahwasanya orang memang cenderung membuat batas untuk mengkhususkan kelompoknya sendiri. Padahal di dunia ini, batas itu sesungguhnya tidak pernah jelas. Contohnya: Walaupun susah untuk didefinisikan, tetapi kita dengan mudah dapat membedakan orang kaya dengan orang miskin, tetapi di mana batas kaya dan miskin? Inilah yang tidak pernah bisa kita tunjukkan dengan tegas! Demikian pula kita dengan mudah dapat menunjukkan utara dan selatan. Tetapi kalau ditanyakan di mana batasnya, kita tidak dapat segera menunjukkannya dengan tegas! Mungkin ada di antara Pembaca yang lalu mengatakan: “Batas utara dan selatan itu sudah jelas yaitu garis Katulistiwa”! Nah kalau demikian pendapatnya, maka kita yang tinggal di pulau Jawa ini, yang letaknya di sebelah selatan katulistiwa, tidak punya utara dan hanya punya selatan ! Nah bagaimana ini ?! Apakah benar ada orang yang hanya mempunyai selatan tetapi tidak mempunyai utara ?! Tentu semua orang akan menyangkal : “Ah tidak, saya mempunyai utara, selatan, barat maupun timur” ! Jadi dimana letak batas-batas utara-selatan dan barat-timur, serta apa pula artinya?! Nah jadi sesungguhnya: Batas utara-selatan dan barat-timur itu terletak tepat di mana kita berpijak ! Dan, artinya lebih lanjut ialah bahwasanya segala permasalahan itu sesungguhnya terpulang kepada pribadinya masing-masing, terpulang kepada kapan, di mana dan bagaimana ia menempatkan dirinya terhadap sesuatu masalah itu. Lalu apa hubungannya segala omong-kosong ini dengan judul pada tulisan ini? Nah Pembaca yang budiman, dari semula saya memang hendak membuat acara santai, jadi akan saya uraikan secara santai pula rentetan gelar-gelar saya. Saya mempunyai gelar professional dokter dan dengan sendirinya mempunyai gelar akademis Drs Medicus dan ciri adanya gelar professional antara lain ialah bahwa yang bersangkutan mendapat upah dari profesinya, dan memang dari gelar professional saya sebagai dokter saya mendapat upah dari rumah sakit dan/ atau orang sakit; selain itu saya juga mempunyai gelar professional Guru dan mempunyai gelar akademis untuk bidang kajian ilmu yang sesuai dengan tugas keguruan saya, dan untuk ini saya mendapat upah dari Pemerintah melalui Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK)-IKIP Bandung (sekarang FPOK-UPI); saya juga mempunyai gelar professional sopir dan untuk ini saya mendapat upah dari diri saya sendiri; saya juga mempunyai gelar professional Montir, walaupun mungkin bukan montir yang pandai, yaitu kalau saya sedang asyik di kolong mobil dengan pekerjaan saya, dan untuk ini saya juga mendapat upah dari diri saya sendiri; saya juga mempunyai gelar profesional Olahragawan karena di kala itu secara teratur saya melakukan olahraga jantung sehat dan Olahraga Satria Nusantara, dan untuk ini saya juga mendapat upah dari diri saya sendiri; saya juga mempunyai gelar professional Penulis Artikel dan untuk ini saya mendapat upah dari Harian Umum Pikiran Rakyat untuk setiap artikel yang dimuatnya, dan sebagainya, dan sebagainya yang akan membosankan bila semuanya harus ditulis ! Bila saya sedang di rumah dan terutama kalau mau tidur, semua gelar-gelar saya ini saya copoti semuanya. Setiap kali bangun tidur saya segera pasang kuda-kuda untuk menentukan gelar professional apa yang akan saya pakai waktu itu. Kalau saya mau ke FPOK maka saya pasang gelar profesional Guru. Teman-teman seprofesi saya lebih banyak yang memakai gelar professional Dosen, mungkin sebutan Dosen itu diirasanya lebih gagah. Tetapi bagi saya gelar professional Guru atau Dosen sama saja, sebab kegagahan saya tidak ditentukan oleh gelar apa yang saya pasang! Kalau saya mau ke Pasar atau ke Toko, saya tidak pasang gelar apapun, semua saya copoti, yah pasang gelar calon Pembeli sajalah, sebab belum tentu jadi beli sesuatu. Tetapi ulah orang lain sering membuat saya tidak dapat mencopot gelar professional khusunya gelar dokter yang saya miliki. Contohnya: Di tempat-tempat latihan Satria Nusantara kala itu, sahabat saya Bapak H. Endang S Anshari (Alm.) selalu saja lupa kepada nama saya, beliau selalu saja memanggil saya dengan “Pak Dokter”, padahal seingat saya dan alhamdulilah sampai saat ini saya masih selalu ingat, tidak pernah pingsan ataupun lupa diri, saya belum pernah mengganti nama saya, masih tetap saja Santosa. Celakanya lagi hal itu diikuti oleh teman-teman yang lain! Salah-salah bisa saya yang dituduh tidak mau mencopot gelar professional dokter itu, padahal di tempat latihan kan di luar rumah sakit dan di lingkungan orang yang semuanya sehat. Bisa-bisa saya disebut sok dokter atau gila dokter atau bahkan dokter gila! Tetapi memang kadang-kadang pula saya “terpaksa” memasang gelar professional saya itu yaitu kalau kebetulan teman selatihan ada yang memerlukannya.

Nah, kemudian kalau kita kembali ke Pasal 102 sebagaimana yang disebutkan dalam HU PR tersebut di atas, yaitu bahwa “sebutan guru besar atau professor hanya dapat digunakan selama yang bersangkutan bekerja di perguruan tinggi”. Nah kalimat atau istilah “selama yang bersangkutan bekerja di perguruan tinggi” dapat dibuat menjadi tajam dan terang atau sebaliknya juga dapat dibuat menjadi kabur dan tumpul, sekali lagi masalahnya “terpulang kepada pribadinya masing-masing”. Kalau dibuat menjadi kabur dan tumpul maka istilah tersebut di atas menjadi berarti “selama Surat Keputusan pengangkatan menjadi guru besar belum berubah menjadi Surat Keputusan Pensiun”. Kalau istilah itu dibuat menjadi tajam dan terang, maka istilah tersebut akan menjadi berarti “selama melakukan tugas kajian ilmiah bidang keahliannya” sebab gelar guru besar adalah pengakuan dari pemerintah untuk keahlian ilmiah (yang di HU PR diistilahkan sebagai “wibawa akademik”) di bidangnya. “ Melakukan tugas kajian ilmiah di bidangnya” dapat berupa : Memberi kuliah, melakukan penelitian, membimbing mahasiswa (S1-S3), membimbing penelitian dan keahlian staf pengajar di bidangnya, melakukan penyuluhan/ pengabdian kepada masyarakat yang sesuai dengan bidang keahliannya. Jadi apa artinya ini semua? Artinya ialah kalau kita ingin membuat masalahnya menjadi tajam dan terang, maka semua guru besar harus mencopot gelarnya bila tidak “sedang melakukan kajian ilmiah di bidang keahliannya”. Lalu bagaimana dengan beliau-beliau yang memasang gelar Profesornya di depan namanya pada papan nama di tempat prakteknya; entah itu pengacara, entah itu akuntan, entah itu dokter atau entah itu siapapun?! Apakah pada jam-jam sebagaimana tercantum pada papan nama di tempat praktek itu beliau-beliau memang sedang melakukan kajian ilmiah di bidang keahliannya?! Wallahu ‘alam, semuanya memang “terpulang kepada pribadinya masing-masing”.

Ada satu hal yang mengusik hati saya yang mungkin karena saya sendiri yang salah membuat istilah ialah seandainya – yah inilah sekedar andai-andai dari orang yang ingin bersantai – istilah saya itu tidak salah yaitu bahwa “gelar guru besar adalah pengakuan dari pemerintah untuk keahlian ilmiah (wibawa akademik) di bidangnya” lalu apakah keahlian ilmiah di bidangnya itu tiba-tiba saja akan juga hilang bertepatan dengan datangnya SK pensiun? Artinya si mantan guru besar itu secara tiba-tiba lalu menjadi pikun dalam bidang keahliannya bertepatan dengan datangnya SK pensiun?! Artinya pengakuan itu memang lalu menjadi perlu dibatalkan sejak saat itu?! Ah, mudah-mudahan saja tidak demikian halnya, mudah-mudahan saja semua mantan guru besar tetap sehat sejahtera dan tidak segera pikun dalam bidang keahliannya sekalipun sesuai undang-undang gelar guru besar beliau-beliau itu telah dicopot! Saya secara pribadi mengagumi guru besar saya dalam Ilmu Faal sewaktu masih belajar di Jakarta dulu; dengan terlebih dahulu memohon maaf karena harus menambah gelar agar sesuai dengan undang-undang yaitu “mantan” Profesor Sutarman (Alm.), yang walaupun saat itu usianya telah hampir 80 tahun tetapi masih tetap sehat jasmani dan bahkan masih tetap cemerlang pemikiran ilmiahnya, serta masih selalu aktif berpartisipasi pada setiap kegiatan ilmiah Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia.

Sebagai penutup perlu saya kemukakan bahwa tulisan ini jelas bukan tulisan ilmiah yang sesuai dengan bidang keahlian saya, sehingga pencopotan gelar memang perlu dilakukan. Yah, inilah sekedar bacaan bagi orang yang juga ingin bersantai !

Dimuat di HU Pikiran Rakyat Penulis : Y.S.Santosa G. Tgl 29 Januari 1992
Tulisan ini menanggapi artikel di harian tersebut diatas yang berjudul “Pensiunan Guru Besar Enggan Mencopot Gelar”

Entry filed under: pendidikan. Tags: , , , .

Damai Dunia Bila Semua Waras Seutuhnya Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Lembaga Pendidikan (bag 1)

3 Komentar Add your own

  • 2. gina  |  Agustus 5, 2008 pukul 12:02 pm

    dengan adanya tulisan2 dari bapak maka saya sebagai penggerak olahraga yang ada kaitannya dengan para guru pendidikan jasmani semakin jelas untuk mengaplikasikannya di lapangan. tanpa harus menhadopsi buku- buku dari luar negeri ternyata hanya dengan penjelasan bapak kami dapat mengkolaburasikan tulisan bapak denga teori – teori yang relevan dan tentunya sangat mendukung, terimakasi banyak bapak kita semua kami sayang bapak see u you.

    Balas
  • 3. Indrianto  |  September 20, 2008 pukul 1:09 pm

    setuju sekali dengan tulisan Bapak Prof. Dr. dr. Santosa Giriwijaya. Jadi ingat dulu waktu kuliah di FPOK, dimana bapak mengajar dengan serius, semangat, kata-kata yang cerdas, dan teliti sekali. Semoga Bapak tetap sehat, semangat, dan berbahagia selalu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pos-pos Terbaru

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 206,240 hits

Laman


%d blogger menyukai ini: