Sungguh saya bukan Pendidik

Maret 24, 2013 at 8:08 am Tinggalkan komentar

Pada tahun ini, tahun 2012 genaplah 50 tahun tugas/pengembaraan saya di dunia Pendidikan, mulai dari Lembaga yang dulu bernama Fakultas Pendidikan Djasmani (FPD) di bawah Universitas Padjadjaran tahun 1962, menjadi Sekolah Tinggi Olahraga (STO) di bawah Departemen Olahraga, menjadi Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan (FKIK) dibawah IKIP-Bandung, dan terakhir berubah nama menjadi Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) di bawah Universitas Pendidikan Indonesia.

Latar belakang Pendidikan saya Fakultas Kedokteran (Sports Physiology) yang diperlukan bagi Pendidikan dan Pengajaran di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Dari latar belakang ini, jelas saya bukan profesional dalam bidang Pendidikan. Lingkup tugas Pendidikan dan Pengajaran secara kolektif adalah mempersiapkan mahasiswa menjadi Pendidik dan Pengajar, serta profesionals di bidang Keolahragaan dan Kesehatan Olahraga. Tugas ini sungguh merupakan tugas Pendidikan, Pembinaan dan Pembentukan Manusia seutuhnya, yang meliputi aspek Jasmani, Rohani dan Sosial. Jadi sungguh betapa mulia tugas ini, karena sesungguhnya tugas ini adalah tugas untuk mendidik, membentuk dan membina watak bangsa, khususnya generasi muda.

Saya tak hendak membahas masalah pendidikan secara sistematis, karena sungguh di luar kemampuan saya. Saya hanya akan membahas aspek-aspek pendidikan secara sporadis sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikiran saya yang saya anggap sangat penting. Saya sekedar mengikuti pola pemikiran dasar pendidikan yang telah sangat difahami orang pada umumnya yaitu bahwa pendidikan meliputi masalah pemahaman, penghayatan dan pengubahan pola perilaku yang relatif menetap yang merupakan hasil dari telah diperolehnya pemahaman dan penghayatan yang baru.

Dalam aspek pemahaman (ranah kognitif), diharapkan (Maha)siswa menjadi faham akan nilai-nilai kebenaran, kepatutan dan kelayakan, memiliki wawasan yang (lebih) luas, selektif, kritis, asosiatif dan akomodatif, sesuai dengan kebutuhan dan kepatutan yang adekuat, tanpa adanya pemikiran yang bersifat koruptif. Melalui pendidikan diharapkan (Maha)siswa menjadi cerdas dan santun secara akademis.

Dalam masalah penghayatan (ranah afektif), (Maha)siswa yang telah menjadi lebih cerdas secara akademis diharapkan dapat menjadi lebih jujur dalam segala aspek evaluasinya, artinya segala pola pemikirannya harus bersifat objektif, rasional dan transparan. Pola penghayatan demikian harus secara terus-menerus dibudayakan dan dideseminasikan, karena hakekatnya hal ini merupakan landasan Pendidikan bagi pemberantasan korupsi.

Dalam hal perilaku (ranah psikomotorik), diharapkan (Maha)siswa dapat berperilaku santun, jujur, rendah hati, terhormat dan berani dalam kebenaran. Sungguh inilah 4 hal (cerdas, jujur, terhormat, berani) yang sangat melekat dalam pemikiran saya yang harus menjadi bekal dasar bagi seluruh (Maha)siswa FPOK-UPI dalam rangka pembentukan dan pembinaan watak bangsa. Sungguh walaupun saya sudah berada dalam ambang kesenjaan, namun masih selalu tergelitik manakala harus berurusan dengan Pendidikan dan Pembangunan Manusia Seutuhnya, Pendidikan dan Pembangunan Watak Bangsa dan khususnya Pembangunan Watak generasi Muda.

Landasan Pembentukan Watak Bangsa

1. Cerdas
Setiap langkah dalam kehidupan merupakan satu keputusan yang akan menghasilkan keputusan berikutnya. Oleh karena keputusan sifatnya berantai dan bersebab-akibat, maka diperlukan kecerdasan dalam setiap pembuatan keputusan. Kecerdasan diperlukan agar keputusan yang dihasilkan bersifat produktif dan promotif, bukan yang bersifat destruktif dan degeneratif, keputusan harus menghasilkan pembangunan dan pertumbuhan, bukan yang mengkibatkkan kerusakan dan kematian. Artinya harus menguntungkan semua orang dan tidak seorangpun dirugikan, baik secara absolut maupun relatif. Hal ini harus disadari benar oleh setiap Pembuat keputusan, oleh karena setiap keputusan memerlukan pertimbangan dan setiap pertimbangan memerlukan kecerdasaan.

2. Jujur dan terhormat
Orang yang jujur umumnya terhormat. Memang ada orang yang jujur tetapi tidak terhormat, yaitu ketika oleh karena ketidak-cerdasannya ia jadi melakukan perbuatan yang tidak terhormat. Artinya hampir dapat dipastikan bahwa orang yang cerdas dan jujur pasti terhormat. Cerdas bagian utamanya adalah bawaan, tetapi jujur dan terhormat adalah kelakuan. Kelakuan inilah yang harus dibudayakan untuk menjadi bagian dari pendidikan, pembentukan dan pembinaan watak bangsa yang terhormat. Kecerdasan Emosional, yaitu kecerdasan yang dibingkai dengan kesadaran akan kejujuran dan kehormatan, sungguh sangat diperlukan dalam rangka memberantas perilaku koruptif bangsa.

3. Berani
Diperlukan keberanian untuk mengambil keputusan bila segala permasalahannya memang telah benar dan sesuai dengan pertimbangan yang cedas, jujur dan terhormat, di atas landasan demi kebaikan. Pelaksanaan demi kebaikan tidak harus menunggu apakah ia akan, sedang atau sudah dalam jabatan. Landasan demi kebaikan nuraninya adalah ibadah. Sejatinya ibadah adalah memohon ridha Allah. Keberhasilan dan kegagalan usaha manusia sungguh terjadi hanya karena ridha Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas Segala-galanya. Jadi mengapa harus ada istilah tidak berani melaksannakan?
Sungguh keberhasilan memang memerlukan kecerdasan, kejujuran, kehormatan, keberanian dan ridha Allah untuk dapat mencapai dan melaksanakan cita-cita. Tanpa itu semua sesungguhnya kita sudah gagal di awal niat.
Bandung, November 2012.

—oooOooo—

Entry filed under: olahraga, pendidikan. Tags: , .

KONSEP DAN CARA PENILAIAN KEBUGARAN JASMANI MENURUT SUDUT PANDANG ILMU FAAL OLAHRAGA (bag.2) KEBUGARAN LANJUT USIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pos-pos Terbaru

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 206,240 hits

Laman


%d blogger menyukai ini: