KEBUGARAN LANJUT USIA

November 11, 2015 at 7:19 am Tinggalkan komentar

Di Negara Inggris, Sensus tahun 2001 mendapatkan hasil yang menunjukkan lebih dari 20% penduduknya berusia di atas 60 tahun. Ke depannya diperkirakan jumlah populasi yang berusia 65 tahun atau lebih akan meningkat 10 kali lipat dalam masa 40 tahun mendatang, sedangkan jumlah penduduk yang berusia di atas 80 tahun akan mencapai 3x lipat dalam masa 25 tahun mendatang (Dean, 2003). Peningkatan yang cepat dari penduduk lanjut usia ini, khususnya pada usia-usia yang sangat lanjut, menunjukkan bahwa telah terjadinya pelambatan penuaan dan penundaan kerapuhan/ kelemahan jasmani oleh penuaan, serta meningkatnya pertambahan masa sehat dalam kehidupan dan hal ini merupakan keberhasilan yang penting dalam masalah pembinaan kesehatan masyarakat.
Gambaran akan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia juga telah dapat teramati dan hal ini memang selaras dengan meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat dan seiring dengan meningkatnya pemahaman akan pentingnya pola hidup sehat, tata gizi sehat dan pemeliharaan kemampuan gerak dalam lingkup Olahraga Kesehatan.
Penuaan dicirikan dengan menurunnya kemampuan fungsional jantung-pernafasan, otot-saraf dan menurunnya kemampuan olah-daya (metabolisme) (Pendergast et al.,1993). Hal ini dapat sangat menghambat kemampuan menampilkan kegiatan hidup sehari-hari, termasuk berjalan, naik tangga dan bahkan bangkit dari duduk. Dengan semakin menurunnya kemampuan maximal jasmani (Kebugaran Jasmani) disertai semakin menurunnya kemampuan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari pada para lanjut usia, serta semakin menurunnya kemampuan fisiologisnya lebih lanjut, hal ini dapat berakibat menurun dan/atau bahkan hilangnya kemandirian dalam peri kehidupan hariannya. Shephard (1997) mengelompokkan tingkat-tingkat usia dari usia pertengahan ke usia lanjut berdasarkan kondisi fungsionalnya:
* Usia pertengahan (40-65 th) berkaitan dengan hilangnya fungsi biologis antara 10-30%
* Usia lanjut muda (65-75 th) kondisi fungsionalnya sedikit menurun dari hal di atas, tetapi fungsi homeostasisnya (kondisi kesehatan dasarnya) masih baik
* Usia lanjut (75-85 th) fungsi kegiatan sehari-harinya jelas menurun, tetapi masih mampu mandiri
* Usia sangat lanjut (> 85 th) sering memerlukaan bantuan Rumah Sakit atau Perawat.
Menurunnya fungsi jantung-pembuluh darah yang berkaitan dengan pertambahan usia, dicirikan oleh perubahan anatomis, fisiologis dan neurologis yang menyebabkan menurunnya fungsi jantung-pernafasannya dengan akibat menurunnya kapasitas aerobiknya. Kemampuannya berlatih aerobik menurun 7-10% setiap decade (10 tahun) sejak usia dewasa muda, dan hal ini pada umur-umur selanjutnya dapat sangat menurunkan kemampuannya mempertahankan intensitas latihannya (kerja fisiknya). Perubahan struktur arteri (pembuluh darah) dan meningkatnya tonus (ketegangan) otot-otot pembuluh darah juga berpengaruh buruk terhadap tekanan darah, yaitu terjadinya kecenderungan meningkatnya tekanan darah berkaitan dengan pertambahan usia.
Menurunnya kekuatan dan daya untuk membangkitkan kekuatan otot (power otot) tampak menurun lebih jelas pada gerak jasmani dalam kehidupan sehari-hari dari pada menurunnya kapasitas fungsional jantung dan pernafasannya. Menurunnya kekuatan otot yang berkaitan dengan pertambahan usia, terjadi lebih awal pada extremitas (anggota gerak) bawah serta dengan kecepatan yang lebih tinggi pada extremitas bawah dari pada extremitas atas, dan hal ini dapat sangat mempengaruhi tingkat kemandiriannya. Fungsi otot tungkai (extremitas bawah) sangat vital bagi pemeliharaan kemandirian dan pencegahan disabilitas (ketidak-berdayaan). Pada usia lebih lanjut tampak lebih jelas hubungan antara gangguan fungsi tungkai dengan gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti misalnya berjalan dan/atau bangkit dari tempat duduk. Menurunnya kekuatan dan power tungkai ini pada para lanjut usia juga disertai dengan meningkatnya risiko untuk jatuh dan terjadinya patah tulang. Disinilah pentingnya latihan Olahraga Kesehatan, karena dengan berolahraga Kesehatan terjadi pelatihan koordinasi gerak, dan latihan/pemeliharaan koordinasi gerak ini sangat penting untuk Lansia agar dapat menjaga keseimbangan (gerak) tubuh dengan baik sehingga Lansia menjadi tidak mudah jatuh! Jatuh inilah penyebab terpenting pada para Lansia untuk terjadinya patah tulang!.
Kebugaran Jasmani Lansia
Kebugaran Jasmani Lansia didefinisikan sebagai kapasitas fisik yang diperlukan/harus dimiliki Lansia untuk dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara aman dan mandiri, tanpa kelelahan berlebihan serta masih memiliki kemampuan cadangan yang memadai (adekuat) (Rikli and Jones, 1997). Mengukur Kebugaran Jasmani Lansia dengan Tes Ergometer sampai kelelahan (exhaustion), tentu tidak cocok untuk Lansia karena hal itu tidak mencerminkan kemampuan jasmaninya untuk mandiri yaitu yang diperlukan untuk dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari, yang meliputi misalnya naik tangga, bangkit dari duduk, mengangkat benda, menjangkau sesuatu dan/atau membongkok. Lebih lanjut, kiranya adalah juga tidak aman bagi kebanyakan Lansia, dan mungkin juga mereka tidak terbiasa berlatih dengan Ergometer, kecuali untuk latihan dengan intensitas rendah sampai sedang, yang tetap juga memerlukaan pendampingan. Penilaian status fungsional Lansia yang lemah/ rapuh atau tuna daksa (disabled) yang jumlahnya meliputi sampai 25% Lansia (Rikli and Jones, 1997), perlu menggunakan penilaian dengan skala aktivitas diri untuk menilai kegiatan hidup sehari-hari (Mahoney and Barthel,1965; Katz et al., 1970; Hendrik, 1995).
Lansia yang masih mampu mandiri meliputi kelompok Lansia terbesar dengan jumlah + 70% dan meliputi rentang usia sampai di atas usia 75 th (Spirduso, 1995; Rikli and Jones, 1997). Lansia yang masih mampu mandiri ini meliputi rentang variasi kemampuan fisik yang luas, dari yang masih mampu berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial, dalam pekerjaan dan rekreasi, sampai dengan mereka yang rapuh dan rentan cedera terhadap kegiatan-kegiatan yang mengandung stres. Kepada mereka perlu penilaian/ pengamatan untuk mendeteksi awal terjadinya penurunan fungsi ini dan sesegera mungkin memberi bimbingan dan latihan yang tepat untuk memelihara kemandiriannya.
Rangkaian tes Kebugaran bagi Lansia
Kebugaran Jasmani merupakan wujud dari kemampuan fungsional Pelaksana Gerak (Ergosistema 1) dan Pendukung Gerak (Ergosistema 2). Kedua kemampuan fungsional tersebut secara bersama-sama akan mewujudkan kemandirian. Ergosistema 1 adalah pewujud utama kemandirian, sedangkan Ergosistema 2 adalah pendukung/ pemelihara keberlangsungan kemandirian gerak tersebut di atas. Dengan konsepnya yang demikian maka jelas Ergosistema 1 adalah pewujud kemandirian yang dominan.
Dalam masalah Tes Kebugaran Jasmani pada Lansia yang hakekatnya adalah Tes Kemandirian pada Lansia, rangkaian Tes yang tercantum di bawah ini adalah yang biasa digunakan untuk menilai kebugaran fungsional Lansia antara usia 60 – >90 th dengan berbagai kemampuan fisik, sebagaimana yang direkomendasikan oleh antara lain AAHPERD (American Alliance for Health, Physical Education, Recreation and Dance) (Osness et al., 1990, 1996). Hakekat dari tes ini adalah menilai kemampuan mandiri dari para Lansia, sehingga wujud dari tes ini adalah penilaian terhadap kemandirian para Lansia, yang terdiri dari :
* Penilaian terhadap Komposisi tubuh
* Kemampuan memelihara Keseimbangan
* Penilaian terhadap kondisi Kelentukan
* Penilaian terhadap Kemampuan fungsional Ergosistema 1 (Kemampuan otot dasar)
* Penilaian terhadap Kemampuan fungsional Ergosistema 2 (Kemampuan ketahanan aerobik dasar)
Tes kemampuan fungsional ini bukan berupa tes berat/sulit, jadi merupakan tes yang harus dapat dilakukan secara aman oleh para Lansia pada umumnya yang masih mampu mandiri, tanpa perlu pemeriksaan kesehatan/ supervisi awal, karena tes itu hanya berupa penilaian terhadap aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian Prosedur Tetap Persiapan dan Keamanan Pelaksanaan Tes tetap harus difahami dan ditaati oleh semua Petugas Pelaksana Tes. Petugas Tes harus memahami dan mewaspadai tanda-tanda kegawatan yang merupakan akibat stress psikologis maupun fisiologis dari pelaksanaan tes misalnya: Denyut Nadi yang terlalu tinggi, mual, sesak nafas, pucat dan/atau nyeri dada.
Prosedur Pra-Tes meliputi mengingat kembali dan mencoba melaksanakan tes oleh para Petugas, serta membimbing pemanasan ringan para Peserta Tes. Pemanasan hendaknya meliputi rangsangan ringan terhadap fungsi jantung-paru dan olahdaya (metabolisme), menggerak-gerakkan semua pesendian yang diperlukan seluas gerakan ROM (=Range of Motion) yang nyaman. Semua Tes harus didahului dengan peragaan 1-2x contoh.
Formulir Tes hendaknya meliputi:
* Lembar informasi yang meliputi rincian petunjuk-petunjuk Pra-Tes (Misalnya; dilarang melakukan pengerahan kemampuan maximal, dilarang makan berat menjelang hari Tes, cukup istirahat menjelang hari Tes)
* Mengisi Questionair mengenai kesiapan fisik dan mental untuk melakukan Tes, agar dapat dipilah siapa-siapa yang memerlukan pemeriksaan umum dan pengecekan kelayakan menjalani Tes. Lansia yang pernah mengalami nyeri dada, denyut nadi tidak teratur, sesak nafas, perlu berkonsultasi kepada Dokter.
* Perlu disediakan formulir yang menjelaskan risiko dan tanggung-jawab yang berkaitan dengan prosedur tes serta haknya untuk menghentikan tes tersebut setiap saat.

Butir-butir Tes/Evaluasi

1. Komposisi tubuh / Index Massa Tubuh (IMT)
o Terdapat petunjuk yang menyatakan bahwa individu dengan IMT (Index Massa Tubuh) tinggi atau rendah (tidak normal) dikemudian hari cenderung menjadi lebih tidak berdaya dibandingkan dengan mereka yang mempunyai IMT yang normal (Galanos et al,1994). IMT rendah juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko kematian, khususnya mereka yang IMTnya kurang dari 10% atau lebih dan berusia 50 tahun ke atas (Losonczy et al, 1995). Karena itu penyertaan IMT sebagai index sederhana untuk evaluasi Kebugaran Fungsional Lansia kiranya memang diperlukan.

2. Keseimbangan
o Keseimbangan statis: Keseimbangan statis dinilai dari kemampuannya mempertahankan sikap seimbang dalam kondisi landasan/pijakan stabilitas yang semakin dikurangi, baik dengan mata terbuka maupun dengan mata tertutup. Berbagai sikap berdiri yang umumnya dipergunakan untuk melaksanakan tes ini, meliputi dari yang mudah s/d yang sulit adalah sebagai berikut:
* sikap berdiri paralel (kedua kaki dalam posisi sejajar);
* sikap berdiri semi tandem (dari posisi kedua kaki paralel, satu kaki kemudian digeser ke depan setengah jarak panjangnya kaki);
* sikap berdiri tandem (satu kaki ditempatkan didepan kaki yang lain dengan tumit rapat didepan empu jari kaki yang lain) dan
* sikap berdiri dengan satu kaki/tungkai (Iverson et al., 1990; Verfailli et al., 1997; Brown et al., 2000).
Dengan alasan kelayakan dan kepatutan tes bagi Lansia, maka Lansia dianggap mampu melaksananakan tes ini bila mampu mempertahankan keseimbangannya dalam durasi minimal 30 detik. Bagian terbesar Lansia umumnya dapat melakukan tes ini dengan sempurna.
o Keseimbangan dinamis: Penilaian dilakukan dengan menghitung banyaknya langkah benar/ seimbang ketika Lansia melakukan langkah tandem (empu jari menempel ke tumit kaki yang lain) selama jangka waktu tertentu, misalnya selama durasi 30 detik (Nevitt et al, 1989; Topp et al., 1993; Dargent-Molina et al., 1996).

3. Kelentukan/ flexibility
Gangguan flexibilitas pada usia lanjut mempengaruhi kemampuan gerak Lanjut usia. Di bawah ini adalah contoh tes flexibilitas sederhana yang tanpa menggunakan alat.
o Tes duduk-jangkau – Sit and Reach Test – tes untuk mengukur flexiibilitas pinggang bawah dan otot hamstring (Jones et al., 1998).
Pada tes ini nara coba duduk dipinggir depan suatu kursi, dengan satu tungkai diluruskan ke depan (lutut lurus, ujung kaki diarahkan ke depan, tumit bertumpu di atas lantai), tungkai yang lain ditekuk pada lutut dan telapak kaki diletakkan pada lantai. Pada tes ini sikap menjangkau dipertahankan selama 2 detik dan diukur berapa jauh jarak antara ujung jari dengan ujung empu jari (ibu jari kaki). Tes dinilai positif bila ujung jari dapat melampaui empu jari, dan dinilai negatif bila tidak dapat melampaui empu jari. Tes ini dilarang dilakukan pada mereka yang mengalami kyphosis (bungkuk) berat dan mereka yang mengalami osteoporosis (keropos tulang) dan pernah mengalami fraktura vertebral.

4. Tes Kekuatan otot
o Tes Duduk-Bangkit
Tes ini untuk menilai fungsi otot-otot tubuh bagian bawah. Tes dilakukan dengan duduk bangkit dari kursi yang dilakukan dalam 30 detik dan dihitung berapa kali Lansia ini dapat melakukan duduk-bangkitnya. Kursi yang dipergunakan berukuran sebagaimana lazimnya kursi yang dipergunakan pada meja makan. Tes dimulai setelah diberi aba-aba ‘mulai’. Sikap kepala lurus ke depan dengan tetap menjaga keseimbangan tubuh.
o Kekuatan dan daya tahan otot tubuh bagian atas banyak diperlukan untuk berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari misalnya bebersih rumah, belanja berbagai kebutuhan termasuk berkebun. Kemampuan ini diukur dengan berapa kali mampu melakukan tes flexi lengan (arm-curl) dalam durasi waktu misalnya 30 detik. Kekuatan dan daya tahan otot tubuh bagian atas ini menurun dengan meningkatnya usia Lansia, penurunan itu pada wanita lebih besar sehingga pada wanita kekuatan itu dapat hanya sebesar 50% dari kekuatan yang dimiliki oleh pria (Frontera et al., 1991). AAHPERD (Osness et al., 1990) merekomendasikan beban 2 kg untuk wanita dan 4 kg untuk pria pada tes kekuatan lengan ini.
o Kekuatan genggam (Grip strength)
Tes ini dapat dipergunakan juga untuk menilai Kekuatan dan daya tahan otot tubuh bagian atas. Tes ini dilakukan dalam sikap duduk dan tidak dibenarkan menggunakan tangan yang dominan. Kekuatan tangan ini menurun sekitar 30% pada kelompok usia 65-74 tahun dibandingkan dengan kelompok 25 ? 44 tahun. Disarankan agar Lansia memiliki kekuatan genggam sebesar 20% dari berat badan, karena kekuatan sebesar ini yang dibutuhkan untuk berpegangan pada ketika menaiki bus, yaitu diperkirakan memerlukan kekuatan sebesar 17 – 20% dari berat badan (Activity and Health Researcg, 1992).

5. Tes kemampuan aerobik
Dalam buku Ilmu Faal Olahraga dikemukakan bahwa pembentukan daya dalam kaitannya dengan kemampuan maximal dalam olahraga diklasifikasi dalam 3 katagori sbb:
1. Olahraga Anaerobik dominan: 0 – 2 menit
2. Olahraga campuran Anaerobik-aerobik 2 – 8 menit
3. Olahraga Aerobik dominan: 8 –> menit
Berdasarkan klasifikasi tersebut di atas Penulis berpendapat bahwa dalam rangka sekadar menguji kemampuan mandiri Lansia, maka tes aerobik bagi Lansia ini cukup bila dengan melakukan tes berjalan secepat mungkin dalam waktu 3 menit saja sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya saat itu dan dicatat berapa jauh jarak yang dapat dicapai!

Catatan:
Tes Kebugaran Jasmani Lansia ini, khususnya butir-butir tes /evaluasinya masih memerlukan uji-coba mengenai validitas dan reliabilitasnya sebelum dipergunakan secara luas.

—ooo0ooo—

Kepustakaan
Winter et al., (2007): Sport and Exercise Physiology Testing Guidelines, The British Association of Sport and Exercise Science Guide. Vol II: Exercise and Clinical Training, Routledge Taylor & Francis Group, London and New York.
Giriwijoyo, H.Y.S.S dan Sidik, D.Z. (2013): Ilmu Faal Olahraga, Fungsi Tubuh Manusia pada Olahraga, PT REMAJA ROSDAKARYA, Bandung
Giriwijoyo, H.Y.S.S dan Sidik, D.Z. (2013): Ilmu Kesehatan Olahraga, PT REMAJA ROSDAKARYA, Bandung.

Y.S.Santosa Giriwijoyo
Bandung, November 2015.

Entry filed under: arti sehat, olahraga, sehat. Tags: .

Sungguh saya bukan Pendidik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pos-pos Terbaru

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 206,240 hits

Laman


%d blogger menyukai ini: