Posts filed under ‘olahraga’

Masukan Bagi Penyempurnaan Draft Batang Tubuh Ilmu Pendidikan

Pemberi masukan : Prof.Drs.dr.H.Y.S.Santosa Giriwijoyo, FPOK-UPI

Isi masukan :

Terima kasih yang tiada terhingga saya ucapkan atas undangan untuk menghadiri Seminar Pengembangan Teori dan Praksis Pendidikan yang dilampiri Draf Naskah Batang Tubuh Ilmu Pendidikan, serta adanya waktu yang relative panjang untuk mempelajarinya, walaupun bagi saya waktu itu tetap kurang panjang oleh karena saya dengan latar belakang dokter dan Ahli Ilmu Faal tentu sangat awam dalam Ilmu-ilmu Pendidikan.

Namun demikian ada beberapa hal yang perlu saya kemukakan berdasarkan apa yang dapat saya tangkap dari naskah Draf Batang Tubuh Ilmu Pendidikan:

1. Dari seluruh makalah dalam draf itu tiada yang mengakhirinya dengan memberi gambaran tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan Batang Tubuh Ilmu Pendidikan, sehingga sampai akhir saya membaca, sebagai orang awam dalam Dunia Pendidikan saya masih belum mempunyai gambaran tentang apa itu Batang Tubuh Ilmu Pendidikan.

2. Perlu diperjelas dan dipertegas tata-hubungan antara Pendidikan dan Pengajaran, oleh karena produk dari program-program studi Pendidikan (Prodi-dik UPI) adalah Guru Mata Pelajaran, yang wujud aktivitas dalam melaksanakan tugasnya sebagai Pendidik kelak adalah mengajarkan mata pelajaran.

3. Menurut apa yang dapat saya tangkap dari berbagai makalah dalam Draf Batang Tubuh Ilmu Pendidikan, hakekat Pendidikan adalah pendewasaan dan pemandirian peserta didik (Pedagogi dan Andragogi merupakan satu continuum) sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, yang berarti membentuk watak bangsa (Character building), sedangkan pengajaran hakekatnya adalah pembelajaran Ilmu (Sains) dan Teknologi, yang berarti mencerdaskan kehidupan bangsa.

4. Kedua hal dalam butir 3 tersebut diatas hakekatnya seperti dua sisi mata uang sehingga merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan.

5. Menurut apa yang dapat saya tangkap, pendidikan yang sifatnya membentuk watak bangsa bersifat continuum, jadi tidak bisa difragmentasi, oleh karena itu semua produk Prodi-dik UPI harus diberi pakaian seragam dengan warna dasar yang sama (dibekali dengan Batang Tubuh Ilmu Pendidikan), sehingga Peserta-didik akan selalu mendapat pola dan sasaran Pendidikan yang sama walaupun para Peserta-didik menghadapi Guru yang berbeda.

6. Ilmu dan Teknologi volume dan contentnya jelas sehingga dapat difragmentasi menjadi bagian-bagian yang akan terbagikan kepada para Guru (sesuai dengan pilihannya), yang akan menyampaikannya kepada para Peserta-didik.

7. Dari deskripsi pada butir 5 dan 6 maka jelas bahwa Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai Pendidik untuk membentuk watak bangsa, harus menggunakan ?kendaraan? Mata-pelajaran yang diajarkan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu semua calon Guru harus mendapat pembekalan yang mantap dalam Ilmu Pendidikan (Batang Tubuh Ilmu Pendidikan), sehinga akan benar-benar berperilaku sebagai Guru yaitu ?digugu? dan ?ditiru?, di samping bekal Ilmu Pembelajaran yang adekuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Demikianlah maka tugas pokok Guru yang hakekatnya adalah Pendidik, dilaksanakan melalui kegiatan pengajaran/ pembelajaran untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga Guru yang hanya mengajar, hakekatnya ia bukanlah Guru, tetapi sekedar Pembimbing-belajar seperti yang ada pada perusahaan-perusahaan Bimbingan belajar untuk calon peserta SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Sungguh betapa tidak etisnya bila seorang Guru merangkap menjadi Pembimbing-belajar (memberi les privat) bagi muridnya sendiri dengan memungut sejumlah uang! Moga kita semua yang saat ini sudah menjadi Guru (besar maupun ?kecil?) adalah benar-benar Guru yang Pendidik.

8. Last but not least, sungguh betapa mulianya profesi Guru, Pahlawan yang memang tanpa tanda Jasa; oleh karena itu kita semua dalam melaksanakan tugas mendidik dan mengajar para calon Guru di UPI ini hendaknya juga benar-benar sebagai Guru, dan hendaknya juga selalu memompakan kebanggaan kepada mereka betapa mulia tugas mereka kelak; mereka harus bangga menjadi Mahasiswa Prodi-dik UPI !

Bandung, 11 Desember 2005.
(H.Y.S.Santosa Giriwijoyo)
FPOK-UPI.

November 30, 2007 at 10:03 pm Tinggalkan komentar

Pembinaan Kesehatan Melalui Olahraga Kesehatan Seni Pernafasan SATRIA NUSANTARA (bag4)

lanjutan dari bagian ketiga

Ketuaan dan penuaan

Masalah ini cukup relevan untuk dibahas, oleh karena diperkirakan lebih dari 50% Anggota LSP-SN yang aktif berlatih, berusia di atas 40 tahun.

Penuaan adalah proses biologik alami meliputi seluruh masa kehidupan mulai dari lahir, pertumbuhan dan perkembangan untuk mencapai kematangan pada usia + 30-35 tahun yang kemudian diikuti dengan kemunduran progresif dan gradual (bertahap) mengenai bentuk tubuh (Anatomi) maupun fungsinya (Fisiologi) akibat dari keausan sel yang terjadi selama proses kehidupan, yang akan berakhir dengan kematian. Akan tetapi kematian tidak selalu oleh karena ketuaan, dapat juga oleh karena infeksi atau stress/ruda-paksa yang tidak tertahankan oleh yang bersangkutan.

Beberapa tanda ketuaan yang bersifat progresif yang berkaitan dengan perlunya melakukan olahraga dan perlu diketahui meliputi :

#-Fisiologi ? Fungsi :
– Skelet :
– Flexibitas sendi menurun, sendi menjadi kaku.
– Sistem Saraf :
– Berkurangnya sensitivitas sensoris (rasa gerak)
– Melambatnya reflex dan reaksi
– Berkurangnya kemampuan koordinasi
– Melambatnya fungsi mental dan mental confusion (linglung, pikun)
– Gangguan pengendalian buang air kecil dan buang air besar
– Gangguan tidur.
– Sistem Kardio-vaskular :
– Tekanan darah meningkat – Denyut nadi istirahat meningkat
– Curah jantung maksimal menurun – Kapasitas fungsional menurun.
– Penyakit kardio-vaskular :
o Peny. Jantung iskemik / infark
o Stroke
– Sistem pernafasan (respirasi) :
o Bronkitis dan emfisema paru, terutama pada :
* Perokok
* Penduduk yang terpapar polusi udara secara menahun
* Pekerja di lingkungan berdebu.
– Sistem metabolisme :
– Diabetes mellitus – Hypothyroidie
– Hiperkolesterolemi – Obesitas
– Osteoporosis/Osteomalasia – Arthritis
– Asam urat tinggi – Anemi : – Penyebab tersering :
– Perdarahan kronis :
– Ca lambung/usus
– Hemoroid
– Kurang gizi/vitamin B12

#-Psikologi :
– Menarik diri dari pergaulan
– Depressi, kesepian, apatis
-.Mudah tersinggung
– Menurunnya :
– Rasa percaya diri – Minat kerja
– Nafsu sex – Status finansial

#-Lain-lain :
– Cenderung mudah celaka karena :
– Gangguan koordinasi yang disebabkan menurunnya :
o Reflex dan reaksi
o Sensitivitas sistem sensorik
o Flexibilitas
o Mental confusion.
– Munculnya penyakit-penyakit keturunan, penyakit Gaya Hidup dan keganasan :
– Peny. Kardiovaskular (peny, jantung-pembuluh darah)
– Penyakit metabolisme
– Keganasan : Kanker payudara, rahim, ovarium, prostat dll.
– Atrofi jaringan :
– elastisitas kulit menurun – kulit kendur dan keriput.
– jaringan lemak berkurang – perubahan wajah dan bentuk tubuh.

Osteoporosis

Osteoporosis adalah pengeroposan tulang yang disebabkan oleh karena berkurangnya kadar mineral (demineralisasi Ca2+) tulang, yang menyebabkan tulang menjadi rapuh.

Osteoporosis pada wanita berkaitan dengan berkurangnya hormon estrogen yang terjadi pada menopause, pada pria berhubungan dengan berkurangnya hormon androgen. Osteoporosis di Dunia Barat sudah merupakan epidemi. Indonesia akan menuju ke kondisi yang sama oleh karena pada tahun 2010 jumlah wanita menopause diperkirakan akan mencapai 35 juta orang (PR-Minggu 2 Sept 2001).

Osteoporosis disertai dengan meningkatnya kejadian fraktur (patah tulang) yang terutama mengenai spina (ruas tulang belakang), pergelangan tangan dan paha. Misalnya terjadinya kompressi fraktur spina yang menyebabkan terjadinya kyphosis (bongkok) disertai dengan nyeri punggung. Gejala ini meliputi 20% wanita usia > 60 tahun dan pada wanita jumlahnya 4x lebih banyak dari pada pria. Hal ini disebabkan oleh karena :
– dari awalnya tulang-belulang wanita memang lebih kecil dari pria
– proses demineralisasi pada wanita lebih cepat setelah menopause yaitu sekitar 4% per tahun selama 5 tahun pertama sejak awal menopause, kemudian melambat.
Pada pria menopause terjadi pada usia yang lebih lanjut, ditandai dengan berkurangnya fertilitas oleh karena berkurangnya produksi hormon androgen (testosteron), yang menyebabkan juga terjadinya osteoporosis.
– Olahraga, khususnya Olahraga dengan beban (weight-bearing) penting untuk menghambat proses osteoporosis. Pada SP-SN hal ini analog dengan tingkat Pengendalian Keras.
– Diet : Kebutuhan Ca2+ untuk pencegahan osteoporosis antara 1000-1500 mg / hari. Yang baik untuk dikonsumsi misalnya susu skim, yoghurt dengan kadar lemak rendah. Dalam hal alergi terhadap susu sebaiknya diganti dengan mengkonsumsi tablet Ca2+.

berlanjut ke bagian kelima

Oktober 30, 2007 at 7:28 am 3 komentar

Pembinaan Kesehatan Melalui Olahraga Kesehatan Seni Pernafasan SATRIA NUSANTARA (bag3)

lanjutan dari bagian kedua

Olahraga Kesehatan

Pesantai adalah orang yang tidak melakukan olahraga sehingga cenderung kekurangan gerak. Sebaliknya Pelaku olahraga berat melakukan olahraga lebih dari keperluannya untuk pemeliharaan kesehatan. Demikianlah maka Pelaku Olahraga Kesehatan adalah orang yang tidak kekurangan gerak tetapi bukan pula Pelaku olahraga berat. Olahraga yang dianjurkan untuk keperluan kesehatan adalah aktivitas gerak raga yang setingkat di atas gerak raga yang biasa dilakukan untuk keperluan pelaksanaan tugas kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu setiap orang mempunyai dosis olahraganya masing-masing. Dalam hal Olahraga Kesehatan dilakukan secara berkelompok yang dipimpin seorang Instruktur, setiap Peserta harus berusaha mengikutinya sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Ciri Olahraga Kesehatan secara teknis-fisiolgis adalah :

-gerakannya mudah, sehingga dapat diikuti oleh orang kebanyakan pada umumnya
-sub-maksimal, bukan gerakan-gerakan maksimal atau gerakan eksplosif maksimal
-terdiri dari satuan-satuan gerak yang dapat dirangkai secara kontinu (tanpa henti)
-bebas stress (non kompetitif)
-diselenggarakan 3-5x/minggu (minimal 2x/minggu).
-dapat mencapai intensitas antara 60-80% denyut nadi maksimal (DNM) sesuai umur. DNM sesuai umur = 220 ? umur dalam tahun. Sebaiknya tiap Peserta mengetahui cara menetapkan dan menghitung denyut nadi latihan.

Sasaran Olahraga Kesehatan

– Sasaran-1: Memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak yang masih ada (mobilisasi sendi-sendi). Misalnya orang yang terikat pada kursi roda sekalipun, harus tetap memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak yang masih ada pada semua persendiannya, serta memelihara fleksibilitas dan kemampuan koordinasi. Kemampuan koordinasi dapat dilatih dengan misalnya mengambil, memindahkan dan menata-letak benda-benda kecil, me-nyentuh benda-benda kecil dengan ujung jari kaki, dsb.

– Sasaran-2 : Meningkatkan kemampuan otot untuk dapat meningkatkan kemampuan geraknya lebih lanjut. Latihan dilakukan dengan menggunakan beban ringan yang mudah didapat misalnya batu atau sebotol air minum kemasan, latihan ?push-ups? dengan misalnya mendorong tembok, dll.

– Sasaran-3 : Memelihara kemampuan aerobik yang telah memadai atau meningkatkannya untuk mencapai katagori sedang.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa Olahraga Kesehatan adalah gerak olahraga dengan takaran sedang, bukan olahraga berat ! Jadi takarannya ibarat makan : berhentilah makan menjelang kenyang; jangan tidak makan oleh karena bila tidak makan dapat menjadi sakit, sebaliknya jangan pula kelebihan makan, karena kelebihan makan akan mengundang penyakit.

Sasaran olahraga kesehatan berkaitan dengan :

– Pemeliharaan dan peningkatan mobilitas dan kemandirian
– Pencegahan dan penyembuhan penyalit non-infeksi
– Pengendalian berat badan dan pengaturan diet
– Meningkatkan semangat dan kualitas hidup

berlanjut ke bagian keempat

Oktober 30, 2007 at 7:27 am 2 komentar

Pembinaan Kesehatan Melalui Olahraga Kesehatan Seni Pernafasan SATRIA NUSANTARA (bag2)

lanjutan dari bagian pertama

Mengapa perlu Olahraga?

Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu : Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.

Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memperta-hankan hidup dan meningkatkan kualitas hidup.

Olahraga Kesehatan meningkatkan derajat Sehat Dinamis (Sehat dalam gerak), pasti juga Sehat Statis (Sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya. Gemar berolahraga : mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat ! Malas berolahraga : mengundang penyakit. Tidak berolahraga : menelantarkan diri !

Kesibukan dalam kehidupan ?Duniawi? sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mengundang penyakit kardio-vaskular (penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke). Olahraga (Kesehatan) : Banyak gerak dan bebas stress, menggembirakan dan memperluas pergaulan, mencegah penyakit dan menyehatkan secara paripurna (jasmani, rohani dan sosial) ! Olahraga adalah kebutuhan hidup bagi orang yang mau berpikir. Bukan Allah menganiaya manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri !

Konsep Olahraga Kesehatan : Padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 30 menit tanpa henti, tiada selang waktu berhenti yang nyata), massaal, mudah dan murah ! Massaal : Ajang silaturahim, ajang pencerahan stress, ajang komunikasi sosial ! Jadi Olahraga Kesehatan membuat manusia menjadi sehat Jasmani, Rohani dan Sosial yaitu Sehat seutuhnya sesuai konsep Sehat WHO !

Sehat Dinamis hanya dapat diperoleh bila ada kemauan mendinamiskan diri sendiri khususnya melalui kegiatan Olahraga (Kesehatan). Hukumnya adalah : Siapa yang makan, dialah yang kenyang! Jadi makanlah! Siapa yang mengolah raganya, dialah yang sehat! Jadi berolahragalah! Bila raga tidak diolah berarti siap dibungkus ! Klub Olahraga Kesehatan adalah Lembaga Pelayanan Kesehatan (Dinamis) di lapangan.

Sehat adalah nikmat karunia Allah yang menjadi dasar dari segala nikmat yang lain ! Karena itu syukurilah nikmat sehat karunia Allah ini dengan meningkatkan derajat sehat dinamis Anda melalui gerak, khususnya melalui Olahraga Kesehatan Seni Pernafasan Satria Nusantara ! Wahai manusia, bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup ! SHALATLAH, SEBELUM DISHALATI !

berlanjut ke bagian ketiga

Oktober 25, 2007 at 2:40 pm 4 komentar

Pembinaan Kesehatan Melalui Olahraga Kesehatan Seni Pernafasan SATRIA NUSANTARA (bag1)

Pembinaan Kesehatan Melalui Olahraga Kesehatan Seni Pernafasan SATRIA NUSANTARA
Oleh : H.Y.S.Santosa Giriwijoyo.

Pendahuluan.

Sehat adalah nikmat karunia Allah yang menjadi dasar bagi segala nikmat dan kemampuan. Nikmatnya makan, minum, tidur serta kemampuan bergerak, bekerja dan berfikir akan berkurang atau bahkan hilang dengan terganggunya kesehatan kita. Oleh karena itu kita harus selalu mensyukuri nikmat sehat karunia Allah ini dengan memelihara dan bahkan meningkatkannya, khususnya melalui Olahraga Kesehatan.

Pembinaan?pemeliharaan kesehatan, selalu harus mengacu pada konsep Sehat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menyatakan bahwa SEHAT adalah : Sejahtera Jasmani, Rohani dan Sosial, bukan hanya bebas dari Penyakit, Cacat ataupun Kelemahan. Pembinaan kesehatan mempunyai 4 (empat) facet yaitu pembinaan kesehatan yang bersifat: (1) Promotif, (2) Preventif, (3) Rehabilitatif dan (4)mKuratif. Dalam hubungan dengan Olahraga Kesehatan, maka pembicaraan dalam makalah ini dibatasi hanya pada facet Promotif dan Preventif saja.

Tujuan pembinaan-pemeliharaan Kesehatan adalah memelihara dan/atau meningkatkan kemandirian dalam peri kehidupan bio-psiko-sosiologisnya, yaitu secara biologis menjadi (lebih) mampu menjalani kehidupannya secara mandiri, mampu mengurus dirinya sendiri, tidak tergantung pada bantuan orang lain, secara psikologis menjadi (lebih) mampu mensyukuri segala nikmat karunia Allah baginya, sehingga tiada rasa frustrasi, tekanan batin maupun beban-beban psikologis lainnya misalanya ?post power syndrome? dan secara sosiologis menjadi (lebih) mampu bersosialisasi dengan masyarakat lingkungannya sehingga senantiasa dapat menyumbangkan manfaat dari pengetahuan dan pengalaman hidupnya, bukannya menjadi beban bagi keluarga dan/atau masyarakatnya. Meningkatnya kemampuan mandiri dalam peri kehidupan bio-psiko-sosiologis ini berarti meningkatnya kualitas atau kesejahteraan hidup, yang sesuai dengan ketiga aspek Sehatnya WHO yaitu sejahtera Jasmani (kemandirian biologis), sejahtera Rohani (kemandirian psikologis) dan sejahtera Sosial (kemandirian sosiologis)! Oleh karena itu wujud kegiatan Pembinaan-pemeliharaan Kesehatan melalui olahraga kesehatan apapun, harus ditujukan kepada ketiga aspek Sehatnya WHO tersebut di atas.

Kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rohaniah dilakukan dengan upaya untuk menghilangkan sebanyak mungkin stress dan beban-beban psikologis lainnya dengan cara meningkatkan volume dan kualitas pemahaman dalam peri kehidupan beragama beserta peningkatan frekuensi dan intensitas pelaksanaan ibadahnya. Olahraga Kesehatan Seni Pernafasan Satria Nusantara sangat berperan dalam masalah ini.

Kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan jasmaniah dilakukan dengan upaya untuk meningkatkan derajat Sehat Dinamis melalui berbagai bentuk Olahraga Kesehatan. Olahraga Kesehatan adalah Olahraga untuk memelihara dan/atau untuk meningkatkan derajat Kesehatan dinamis, sehingga orang bukan saja sehat dikala diam (Sehat statis) tetapi juga sehat serta mempunyai kemampuan gerak yang memenuhi kebutuhan hidupnya (Sehat dinamis). Olahraga Kesehatan memang dapat dilakukan sendiri-sendiri, akan tetapi akan lebih semarak serta menggembirakan (aspek Rohaniah) apabila dilakukan secara berkelompok. Berkelompok merupakan rangsangan dan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan Sosial, oleh karena masing-masing individu akan bertemu dengan banyak teman sesamanya, sedangkan suasana lapangan pada Olahraga (Kesehatan) akan sangat mencairkan kekakuan yang disebabkan oleh adanya perbedaan status sosial-ekonomi para Pelakunya. Suasana lapangan dikala melakukan olahraga, sangat meningkatkan gairah dan semangat hidup para Pelakunya! Demikianlah lingkup pembinaan Kesehatan yang sangat perlu difahami oleh semua fihak yang berkepentingan.

berlanjut ke bagian kedua

Oktober 25, 2007 at 2:38 pm 4 komentar

Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Lembaga Pendidikan (bag 2)

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian pertama

Mengapa perlu Olahraga.

Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu : Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.

Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Seperti halnya makan, Olahraga merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik; artinya Olahraga sebagai alat untuk memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang aktif mengikuti kegiatan Penjas-Or dari pada siswa-siswa yang tidak aktif mengikuti Penjas-Or (Renstrom & Roux 1988, dalam A.S.Watson : Children in Sport dalam Bloomfield,J, Fricker P.A. and Fitch,K.D., 1992).

Olahraga Kesehatan meningkatkan derajat Sehat Dinamis (Sehat dalam gerak), pasti juga Sehat Statis (Sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya. Gemar berolahraga : mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat ! Malas berolah-raga : mengundang penyakit.
Tidak berolahraga : menelantarkan diri !

Kesibukan dalam kehidupan “Duniawi” sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mengundang berbagai penyakit non-infeksi di antaranya yang terpenting adalah penyakit kardio-vaskular (penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke). Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia pertengahan, tua dan lanjut, khususnya yang tidak melakukan Olahraga. Olahraga (Kesehatan): Banyak gerak dan bebas stress, mencegah penyakit dan menyehatkan ! Olahraga adalah kebutuhan hidup bagi orang yang mau berpikir. Bukan Allah menganiaya manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri ! Pemahaman dan perilaku ini sudah harus ditanamkan sejak usia dini, yaitu semenjak mereka masih di tingkat Pendidikan Dasar, baik di Sekolah Umum maupun di Pondok Pesantren! Cara penyajian Penjas-Or di Sekolah maupun di Pondok Pesantren harus dapat menjadikan siswa/santri menjadi butuh akan Penjas-Or khususnya demi kesehatannya serta dukungan bagi kemampuan belajarnya, sehingga siswa/santri akan selalu menyambut gembira setiap datang mata pelajaran Penjas-Or. Oleh karena sudah menjadi kebutuhan, maka mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran Penjas-Or ditiadakan seperti yang terjadi selama ini bila mereka akan menghadapi ujian akhir. Untuk ini diperlukan guru-guru Penjas-Or yang faham benar akan makna Penjas-Or di Sekolah maupun di Pondok Pesantren.

Konsep Olahraga Kesehatan adalah: Padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), adekuat, massaal, mudah, murah, meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman) ! Massaal : Ajang silaturahim, ajang pencerahan stress, ajang komunikasi sosial ! Jadi Olahraga Kesehatan membuat manusia menjadi sehat Jasmani, Rohani dan Sosial yaitu Sehat seutuhnya sesuai konsep Sehat WHO ! Adekuat artinya cukup, yaitu cukup dalam waktu (10-30 menit tanpa henti) dan cukup dalam intensitasnya. Menurut Cooper (1994), intensitas Olahraga Kesehatan yang cukup yaitu apabila denyut nadi latihan mencapai 65-80% DNM (Denyut nadi maximal: 220-umur dalam tahun). Masalah intensitas yang adekuat ini harus menjadi perhatian bila Olahraga Kesehatan telah mencapai Sasaran–3 (lihat Sasaran Olahraga Kesehatan).

Sehat Dinamis hanya dapat diperoleh bila ada kemauan mendinamiskan diri sendiri khususnya melalui kegiatan Olahraga (Kesehatan). Hukumnya adalah : Siapa yang makan, dialah yang kenyang ! Siapa yang mengolah-raganya, dialah yang sehat ! Tidak diolah berarti siap dibungkus ! Klub Olahraga Kesehatan adalah Lembaga Pelayanan Kesehatan (Dinamis) di lapangan. Dalam kaitan dengan ini maka setiap lembaga Pendidikan Umum maupun Pondok-pondok Pesantren harus juga berfungsi sebagai Lembaga Pelayanan Kesehatan lapangan, dalam rangka program pokok yaitu

Contoh Olahraga Kesehatan berbentuk senam yang dapat mencapai Sasaran-3 (Aerobiks) ialah Senam Pagi Indonesia seri D (SPI-D). Satu seri SPI-D memerlukan waktu 1’45”, sehingga untuk memenuhi kriteria waktu yang adekuat maka SPI-D harus dilakukan minimal 6x berturut-turut tanpa henti, yang akan mencapai waktu 10.5 menit. Menurut penelitian, bila SPI-D dilakukan dengan sungguh-sungguh maka intensitasnya dapat mencapai tingkat adekuat sesuai kriteria Cooper. SPI-D ini macam gerak dan tata-urutannya sudah berpola tetap sehingga lama-kelamaan Peserta dapat menjadi hafal akan macam gerakan dan tata-urutannya. Bila Peserta sudah hafal, maka rangsangan terhadap proses berpikir menjadi berkurang. Oleh karena itu senam aerobik pada umumnya yang tidak berpola tetap, adalah lebih baik dalam hal rangsangannya terhadap proses berpikir.

Ciri Olahraga Kesehatan.

Pesantai adalah orang yang tidak melakukan olahraga sehingga cenderung kekurangan gerak. Sebaliknya Pelaku olahraga berat melakukan olahraga lebih dari keperluannya untuk pemeliharaan kesehatan. Maka Pelaku Olahraga Kesehatan adalah orang yang tidak kekurangan gerak tetapi bukan pula Pelaku olahraga berat. Olahraga yang dianjurkan untuk keperluan kesehatan adalah aktivitas gerak raga dengan intensitas yang setingkat di atas intensitas gerak raga yang biasa dilakukan untuk keperluan pelaksanaan tugas kehidupan sehari-hari (Blair, 1989 dalam Cooper, 1994). Dalam Olahraga Kesehatan, setiap Peserta harus berusaha mengikutinya sebaik mungkin gerak/ instruksi Pelatih, namun tentu harus sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Ciri Olahraga Kesehatan secara teknis-fisiologis adalah :
– gerakannya mudah, sehingga dapat diikuti oleh orang kebanyakan dan seluruh siswa/santri pada umumnya (bersifat massaal), sehingga dapat memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar, gerak yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan hidup sehari-hari.
– intensitasnya sub-maksimal dan homogen, bukan gerakan-gerakan maksimal atau gerakan eksplosif maksimal (faktor keamanan).
– terdiri dari satuan-satuan gerak yang dapat (secara sengaja) dibuat untuk menjangkau seluruh sendi dan otot, serta dapat dirangkai untuk menjadi gerakan yang kontinu (tanpa henti) – faktor penting untuk dapat mengatur dosis dan intensitas olahraga kesehatan.
– bebas stress (non kompetitif)
– diselenggarakan 3-5x/minggu (minimal 2x/minggu).
– dapat mencapai intensitas antara 60-80% denyut nadi maksimal (DNM) sesuai umur. DNM sesuai umur = 220 – umur dalam tahun. Sebaiknya tiap Peserta mengetahui cara menetapkan dan menghitung denyut nadi latihan masing-masing.

Perlu pula dikemukakan bahwa sampai usia sekitar 14 tahun (usia pubertas) tidak perlu ada pemisahan siswa atas dasar jenis kelamin (Watson,1992), karena baru akan berdampak nyata di atas usia tersebut.

Sasaran Olahraga Kesehatan.

– Sasaran-1: Memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak yang masih ada, termasuk memelihara dan meningkatkan fleksibitas dan kemampuan koordinasi.
– Sasaran-2 : Meningkatkan kemampuan otot untuk meningkatkan kemampuan geraknya lebih lanjut. Latihan dilakukan dengan menerapkan prinsip Pliometrik!.
– Sasaran-3 : Memelihara kemampuan aerobik yang telah memadai atau me-ningkatkannya untuk mencapai sasaran minimal katagori “sedang”.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa Olahraga Kesehatan adalah gerak olahraga dengan takaran sedang, bukan olahraga berat ! Jadi takarannya ibarat makan : berhentilah makan menjelang kenyang; jangan tidak makan oleh karena bila tidak makan dapat menjadi sakit, sebaliknya jangan pula kelebihan makan, karena kelebihan makan akan mengundang penyakit. Artinya berolahragalah secukupnya (adekuat), jangan tidak berolahraga karena kalau tidak berolahraga mudah menjadi sakit, sebaliknya kalau melakukan olahraga secara berlebihan dapat menyebabkan sakit !

Keterkaitan Kesehatan, Pendidikan Jasmani dan Olahraga.
Untuk lebih memudahkan bahasannya perlu lebih dahulu dikutip kembali hal-hal yang tersebut di bawah ini :

* Sehat dan Kesehatan.
– Sehat merupakan dasar bagi segala kemampuan jasmani, rohani maupun sosial.
– Memelihara dan meningkatkan kesehatan : cara yang terpenting, termurah dan fisiologis adalah melalui Olahraga.
– Acuan Sehat adalah Sehat Paripurna dari Organisasi Kesehatan Dunia.
* Pendidikan Jasmani dan Olahraga :
– Pendidikan Jasmani adalah pendidikan dengan menggunakan media kegiatan Jasmani.
– Olahraga adalah pelatihan Jasmani
– Pendidikan Jasmani dan Olahraga adalah Pendidikan dan Pelatihan Jasmani, yang dalam lingkup persekolahan/pesantren berarti Pelatihan Jasmani, Rohani dan Sosial menuju kondisi yang lebih baik yaitu sejahtera paripurna (peningkatan mutu sumber daya manusia).

* Olahraga – Gerak :
– Gerak adalah ciri kehidupan.
– Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup.
– Meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup.
– Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk meningkatkan kemampuan gerak yang berarti meningkatkan kualitas hidup.
– Olahraga merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial menuju sejahtera paripurna.
– Hanya orang yang mau bergerak-berolahraga yang akan mendapatkan manfaat dari Olahraga.

* Olahraga Kesehatan :
– Intensitasnya sedang, setingkat di atas intensitas aktivitas fisik dalam menjalani kehidupan sehari-hari
– Meningkatkan derajat kesehatan dinamis – sehat dengan kemampuan gerak yang dapat memenuhi kebutuhan gerak kehidupan sehari-hari.
– Bersifat padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 30 menit tanpa henti), mudah, murah, meriah massaal, fisiologis (manfaat & aman).
– Massaal : – Ajang silaturahim  Sejahtera Rohani dan Sosial
– Ajang pencerahan stress  Sejahtera Rohani
– Ajang komunikasi sosial  Sejahtera Sosial

Ketiga hal diatas merupakan pendukung untuk menuju Sehatnya WHO yaitu Sejahtera Paripurna.
– Sehat dinamis adalah landasan bagi pelatihan Olahraga Prestasi.

* Kondisi Pendidikan Jasmani dan Olahraga saat ini.
– Waktu yang tersedia = 2 x 45 menit/minggu
– Sarana – prasarana sangat terbatas
– Kurikulum Penjas-Or lebih berorientasi kepada Olahraga Kecabangan :
1. Cenderung individual dan cenderung mengacu pencapaian prestasi
2. Olahraga prestasi mahal dalam hal :
o Sarana – prasarana
o Waktu, perlu masa pelatihan yang panjang
o Tenaga dan biaya.

Kesimpulan

Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan harus ditekankan pada olahraga kesehatan dan latihan jasmani untuk meningkatkan derajat sehat dinamis dan kemampuan motorik dan koordinasi yang lebih baik, agar para siswa selama masa belajar memiliki kualitas hidup yang lebih baik, serta dapat diharapkan menjadi atlet berprestasi dan sumber daya manusia yang bermutu di masa depan.

Saran

1. Reorientasi
Penjas-Or sebagai program kurikuler perlu ditinjau kembali kaitannya dengan :
– Relevansinya dengan kebutuhan siswa / santri
– Manfaat yang diharapkan
– Kondisi nyata persekolahan :
i. Jatah waktu / jam pelajaran per minggu
ii. Sarana – prasarana yang tersedia.

2. Reposisi
Penjas-Or perlu dikembalikan pada posisi dasar fungsinya yaitu :
– Penggunaan Olahraga/Kegiatan Jasmani sebagai media Pendidikan
– Penggunaan Olahraga sebagai alat pelatihan untuk memelihara dan meningkatkan derajat sehat dinamis menuju kondisi Sejahtera paripurna sesuai konsep Sehat WHO.

3. Revitalisasi dan Reaktualisasi
Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren dengan orientasi dan posisinya yang baru perlu digalakkan kembali (revitalisasi) dengan menekankan konsep Olahraga Kesehatan (reaktualisasi) sebagai pokok bahasan dan penyajiannya. Oleh karena durasi pelaksanaan Olahraga Kesehatan cukup 10-30 menit, maka jatah pertemuan 2 x 45 menit/minggu, dapat disajikan sebagai materi untuk 2 x pertemuan/minggu @ 30 menit, sehingga memenuhi persyaratan minimal Olahraga Kesehatan.

4. Kualitas Petugas
Keberhasilan misi di tingkat lapangan sangat ditentukan oleh kualitas Petugas serta pemahamannya mengenai makna Penjas-Or bagi Lembaga Pendidikan serta ketulusan dan kesungguhan dalam pengabdiannya.

5. Kebutuhan
Penjas-Or di Sekolah dan Pondok Pesantren harus dirasakan sebagai kebutuhan oleh siswa/santri, sehingga mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran Penjas-Or ditiadakan.

6. Olahraga prestasi
Olahraga kecabangan yang bersifat prestatif perlu pula dikembangkan namun sebaiknya ditempatkan sebagai materi ekstra kurikuler, sebagai tempat penyaluran bakat dan minat siswa/santri.

Kepustakaan

1. Cooper, K.H. (1994) : Antioxidant Revolution, Thomas Nelson Publishers, Nashville-Atlanta-London-Vancouver.
2. Giriwijoyo,Y.S.S. (1992) : Ilmu Faal Olahraga, Buku perkuliahan Mahasiswa FPOK-IKIP Bandung.
3. Giriwijoyo,H.Y.S.S. dan H.Muchtamadji M.Ali (1997) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, IKIP Bandung.
4. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2000) : Olahraga Kesehatan, Bahan perkuliahan Mahasiswa FPOK-UPI.
5. Giriwijoyo,H.Y.S.S. (2001) : Makalah : Pendidikan Jasmani dan Olahraga, kontribusinya terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik, Ma’had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat.
6. Watson,A.S. (1992): Children in Sports, dalam Textbook of Science and Medicine in Sport Edited by J.Bloomfield, P.A.Fricker and K.D.Fitch; Blackwell Scientific Publications.

catatan: post ini adalah bagian kedua dari dua tulisan, lihat bagian pertama

Oktober 19, 2007 at 8:46 pm 34 komentar

Pendidikan Jasmani dan Olahraga Di Lembaga Pendidikan (bag 1)

Meningkatkan kualitas hidup siswa dan mutu sumber daya manusia di masa depan

Oleh :
Drs (Physiol.) H.Y.Santosa Giriwijoyo, Dokter, Guru Besar (Pens.)
dan
Dra Lilis Komariyah, M.Pd.

Pendahuluan.

Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Penjas-Or) merupakan bagian dari kurikulum standar Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah. Dengan pengelolaan yang tepat, maka pengaruhnya bagi pertumbuhan dan perkembangan Jasmani, Rohani dan Sosial Peserta didik tidak pernah diragukan. Sayangnya Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga-lembaga Pendidikan ini belum dapat memposisikan dirinya pada tempat yang terhormat, bahkan masih sering dilecehkan; misalnya pada masa-masa menjelang ujian akhir sesuatu jenjang Pendidikan maka Pendidikan Jasmani dan Olahraga dihapuskan dengan alasan agar para siswa dalam belajarnya untuk menghadapi ujian akhir “tidak terganggu”.

Oleh karena itu Penjas-Or di Sekolah tidak saja memerlukan reposisi, tetapi juga perlu reorientasi, reaktualisasi dan revitalisasi dalam pemikiran dan pengelolaannya untuk mendapatkan tempatnya yang terhormat. Untuk memahami hal ini perlu lebih dahulu difahami apa yang menjadi dasar bagi perlunya diselenggarakan Penjas-Or di Sekolah.

Makna dan Misi Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan.
Lembaga Pendidikan adalah Lembaga formal yang terpenting untuk pembinaan mutu sumber daya manusia. Dalam Lembaga Pendidikan, siswa dibina untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul dalam aspek jasmani, rohani dan sosial melalui berbagai bentuk media pendidikan dan keilmuan yang sesuai.

Acuan tertinggi mutu sumber daya manusia adalah SEHAT WHO yaitu sumber daya manusia yang Sejahtera jasmani, rohani dan sosial, bukan hanya bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan. Sehat WHO adalah konsep sehat yang menjadi cita-cita, tujuan atau acuan pembinaan mutu sumber daya manusia yaitu sehat sempurna, sehat ideal atau sehat/ sejahtera paripurna, yang merupakan hal yang hampir mustahil untuk dapat dicapai.

Pendidikan Jasmani adalah kegiatan jasmani yang diselenggarakan untuk menjadi media bagi kegiatan pendidikan. Pendidikan adalah kegiatan yang merupakan proses untuk mengembangkan kemampuan dan sikap rohaniah yang meliputi aspek mental, intelektual dan bahkan spiritual. Sebagai bagian dari kegiatan pendidikan, maka pendidikan jasmani merupakan bentuk pendekatan ke aspek sejahtera Rohani (melalui kegiatan jasmani), yang dalam lingkup sehat WHO berarti sehat rohani.
Olahraga adalah kegiatan pelatihan jasmani, yaitu kegiatan jasmani untuk memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar maupun gerak ketrampilan (kecabangan olahraga). Kegiatan itu merupakan bentuk pendekatan ke aspek sejahtera jasmani atau sehat jasmani yang berarti juga sehat dinamis yaitu sehat yang disertai dengan kemampuan gerak yang memenuhi segala tuntutan gerak kehidupan sehari-hari, artinya ia memiliki tingkat kebugaran jasmani yang memadai.
Olahraga massaal adalah bentuk kegiatan olahraga yang dapat dilakukan oleh sejumlah besar orang secara bersamaan atau yang biasa disebut sebagai olahraga masyarakat yang hakekatnya adalah olahraga kesehatan, sebab dalam melakukan kegiatan olahraga tersebut hanya satu tujuannya yaitu memelihara atau meningkatkan derajat sehat (dinamis)nya. Olahraga masyarakat atau olahraga kesehatan dengan demikian merupakan bentuk olahraga yang dapat mewujudkan kebersamaan dan kesetaraan dalam berolahraga, oleh karena pada olahraga itu tidak ada tuntutan ketrampilan olahraga tertentu. Dengan demikian maka olahraga kesehatan (Or-Kes) atau olahraga masyarakat (Or-Masy) merupakan bentuk pendekatan ke aspek sejahtera sosial (sehat sosial = kebugaran sosial).

Demikianlah maka Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan mempunyai tujuan membina mutu sumber daya manusia seutuhnya yaitu manusia yang sehat/ bugar seutuhnya atau sejahtera seutuhnya yaitu sejahtera jasmani, rohani dan sosial sesuai rumusan sehat WHO.

Sehat dan Kesehatan.

Sehat adalah kebutuhan dasar bagi segala aktivitas kehidupan. Jadi sehat harus dipelihara dan bahkan ditingkatkan. Cara terpenting, termurah dan fisiologis adalah melalui Olahraga Kesehatan. Dalam hubungan dengan nikmatnya kebutuhan dasar ini maka seluruh Siswa/Peserta didik memerlukan Olahraga baik sebagai konsumsi yaitu mendapatkan manfaatnya langsung dari melakukan kegiatan Olahraga, maupun kegiatan Olahraga sebagai media bagi Pendidikannya.
Lembaga Pendidikan adalah Lembaga formal terpenting yang membina mutu sumber daya manusia. Pembinaan mutu sumber daya manusia selalu harus mengacu kepada konsep Sejahtera Paripurna yaitu konsep Sehat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengemukakan bahwa Sehat adalah : Sejahtera Jasmani, Rohani dan Sosial, bukan hanya bebas dari Penyakit, Cacat ataupun Kelemahan. Dalam kaitan dengan hal ini maka Pendidikan Jasmani dan Olahraga khususnya di lingkungan Lembaga Pendidikan, harus diselaraskan untuk mencapai tujuan sehat termaksud di atas, yang merupakan sehat seutuhnya yaitu Sejahtera Paripurna ! Pendidikan Jasmani dan Olahraga membina mutu sumber daya manusia melalui pendekatan kepada aspek Jasmani. Namun demikian Olahraga mempunyai potensi besar untuk juga mengembangkan aspek rohani dan aspek sosial.
Pada dasarnya tujuan pembinaan-pemeliharaan Kesehatan adalah memelihara dan/atau meningkatkan kemandirian dalam peri kehidupan bio-psiko-sosiologisnya, yaitu secara biologis menjadi (lebih) mampu menjalani kehidupan pribadinya secara mandiri, tidak tergantung pada bantuan orang lain; secara psikologis menjadi (lebih) mampu memposisikan diri dalam hubungannya dengan Tuhan semesta alam beserta seluruh ciptaanya berupa flora maaupun fauna (termasuk manusia); dan secara sosiologis menjadi (lebih) mampu bersosialisasi dengan masyarakat lingkungannya. Meningkatnya kemampuan mandiri dalam peri kehidupan bio-psiko-sosiologis ini berarti meningkatnya kemampuan dan kualitas hidup yang berarti juga meningkatnya kesejahteraan hidup, yang senantiasa harus mencapai ketiga aspek Sehatnya WHO Masa pertumbuhan dan perkembangan anak adalah masa pembentukan pola perilaku dan masa terjadinya internalisasi nilai-nilai sosial dan kultural. Oleh karena itu wujud kegiatan Pembinaan-pemeliharaan Kesehatan bagi Peserta Didik harus ditujukan untuk mendapatkan ketiga aspek Sehatnya WHO tersebut di atas.

Kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rohaniah dilakukan dengan upaya menunjukkan dan menyadarkan posisi dirinya dalam hubungannya dengan Tuhan semesta alam beserta seluruh ciptaanNya, serta dengan menanamkan rasa tanggung-jawab yang tinggi terhaddap pelestarian lingkungan sebaik-baiknya dan percaya diri yang tinggi namun rendah hati. Perlu juga ditanamkan kesadaran untuk mau melakukan upaya-upaya untuk menyegarkan suasana kehidupan, mencerdaskan kemampuan intelektual dan menghilangkan sebanyak mungkin stress, serta dengan meningkatkan volume dan kualitas pemahaman dalam peri kehidupan beragama beserta peningkatan kualitas pelaksanaan ibadahnya. Olahraga baik sebagai kegiatan maupun sebagai media Pendidikan mempunyai potensi yang besar untuk menyumbangkan kontribusinya dalam masalah ini. Melalui Olahraga dapat dengan mudah ditunjukkan betapa terbatasnya kemampuan manusia, betapa perlu kita memelihara lingkungan hidup kita, betapa banyak hal yang di luar kemampuan akal manusia dan betapa perlu kita mencegah kerusakan dan perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Kesejahteraan jasmaniah ditingkatkan dengan Olahraga Kesehatan, untuk meningkatkan derajat Kesehatan dinamis, sehingga orang bukan saja sehat dikala diam (Sehat statis) tetapi juga sehat serta mempunyai kemampuan gerak yang dapat mendukung setiap aktivitas dalam peri kehidupannya sehari-hari (Sehat dinamis). Olahraga Kesehatan umumnya bersifat massaal sehingga lebih menarik, semarak serta menggembirakan (aspek Rohaniah), seperti yang terjadi pada pelaksanaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga-lembaga Pendidikan. Berkelompok merupakan sarana dan rangsangan untuk meningkatkan kesejahteraan Sosial, oleh karena masing-masing individu akan bertemu dengan sesamanya, sedangkan suasana lapangan pada Olahraga (Kesehatan) akan sangat mencairkan kekakuan yang disebabkan oleh adanya perbedaan status intektual dan sosial-ekonomi para Pelakunya. Oleh karena itu Olahraga Kesehatan hendaknya dijadikan materi pokok dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah maupun Pesantren. Dampak psikologis yang sangat positif dengan diterapkannya Olahraga Kesehatan sebagai materi pokok Penjas-Or di Sekolah adalah rasa kebersamaan dan kesetaraan di antara sesama siswa oleh karena mereka semua merasa mampu melakukan Olahraga Kesehatan dengan baik. Sebaliknya, bila Olahraga kecabangan yang diterapkan di Sekolah, yang sering menjadi sesat ke arah Olahraga Prestasi, dapat menyebabkan sebagian siswa merasa terpinggirkan dari kegiatan olahraga karena merasa tidak mampu untuk berprestasi.

Perlu diketahui bahwa pada kelompok anak dengan usia kronologik yang sama terdapat perbedaan yang cukup luas dalam tingkat kematangan psikologiknya, demikian pula terdapat perbedaan yang cukup luas pada umur biologiknya (Watson,1992). Umur kronologik adalah bilangan yang menunjukkan berapa kali seorang anak telah berulang-tahun, sedangkan umur biologik adalah tingkat kemampuan biologik (jasmaniah) anak yang sesuai dengan kemampuan yang ditunjukkan oleh sesuatu tingkat umur kronologik terntetu. Pada anak-anak, rentangan kemampuan biologik mereka berkisar sekitar 6 (enam) tahun. Misalnya, anak umur 10 tahun, kemampuan biologiknya berkisar antara kemampuan biologik anak umur 7 (tujuh) tahun sampai dengan kemampuan biologik anak umur 13 tahun (Watson 1992).

Dampak lebih lanjut dari rasa terpinggirkan ialah timbulnya kebencian terhadap olahraga ! Kondisi demikian merupakan kondisi psikologis yang sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan dan penyebar-luasan olahraga di masyara-kat ! Dengan pengelolaan yang baik maka suasana lapangan dikala melakukan olahraga kesehatan, akan sangat meningkatkan gairah dan semangat hidup para Pelakunya ! Demikianlah maka potensi Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Kesehatan) sangat perlu difahami oleh semua fihak yang berkepentingan dalam pembinaan Peserta didik. Oleh karena itu pula maka tanpa Pendidikan Jasmani dan Olahraga, maka sesungguhnya Pendidikan menjadi tidak lengkap!

Olahraga kesehatan yang disajikan haruslah yang bersifat massaal dan memenuhi ciri olahraga kesehatan misalnya : jalan cepat atau lari lambat (jogging), senam aerobik, pencak-silat, karate dan sejenisnya. Tiga yang terakhir lebih baik dari pada yang pertama oleh karena dapat menjangkau semua sendi dan otot serta dapat merangsang proses berpikir Pelakunya. Kalaupun olahraga yang akan disajikan adalah bentuk permainan, maka permainan itu harus dapat melibatkan seluruh siswa. Tidak boleh ada seorangpun siswa yang hanya menjadi penonton, kecuali yang sakit.

note: berlanjut ke bagian kedua

Oktober 15, 2007 at 12:05 am 9 komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Pos-pos Terakhir

Top Clicks

  • Tidak ada

Blog Stats

  • 196,675 hits

Halaman


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.